Menelusuri Makam Penyiar Islam Pertama di Konawe

Makam ulama La Ode Teke bin La Ode Husaeni di Porokota (Perkampungan lama) di Desa Andadowi Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Listen to this article

Unaaha, Datasultra.com – Di Indonesia, banyak terdapat makam-makam tua para penyebar Islam. Berkat merekalah kita bisa mengenal dan memeluk Islam saat ini. Dari mereka pula kita bisa belajar dan meniru semangat dan pengorbanan dalam berdakwah.

Tidak ada jalan yang mudah untuk meraih tujuan dan cita-cita besar. Tapi, keteguhan sikap dan pantang menyerah seperti yang diperlihatkan oleh para tokoh dan ulama tersebut akan membuat kita mampu mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Di kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara sendiri terdapat makam penyiar Islam yang diketahui menjadi penyiar Islam pertama di daerah ini. Makam ulama yang bernama La Ode Teke tersebut berada di Desa Andadowi Kecamatan Sampara. Untuk menuju makam ini, harus masuk hutan sejauh 4 kilometer.

Tempat itu diketahui bernama Porokota. Perkampungan lama, tempat bermukim keluarga La Ode Teke bersama rombongannya.

Diketahui, La Ode Teke merupakan penyiar dan penyebar Islam di Kerajaan Konawe yang menjadi utusan dari Kesultanan Buton atas undangan Raja Konawe, Lakidende. Dalam perjalanannya, La Ode Teke membawa keluarga dan pembantu-pembantunya.

Rute perjalanan dari Pulau Buton melewati kerajaan Wuna, Wawonii dan menuju Pusat Kerajaan Konawe melalui Muara Sampara.

Setelah itu melakukan perjalanan menelusuri Sungai Konaweeha dan disambut oleh Kapitalau Sampara/Bondoala, Haribau/Rambi, di Puusambalu yang menjadi Pelabuhan Kapitan lau saat itu atau Pohara saat ini.

“Sampai di Sampara, rombongan La Ode Teke membuat pemukiman di Porokota. Sementara Kapitalau melapor ke raja Lakidende,” ucap, Nurhadi salah satu keturunan La Ode Teke.

Setelah utusan Raja Lakidende datang, lanjutnya, La Ode Teke kemudian melanjutkan perjalanan dan disambut oleh Lakidende bersama pejabatnya Siwole Mbatohu Opitu Dula Batu Konawe di Pusat Kerajaan Konawe di Unaaha. La Ode Teke kemudian menyiarkan dan mengajarkan ajaran Islam ke kalangan Istana.

Raja Lakidende dibantu gurunya La Ode Teke kemudian mencanangkan ajaran Islam di seluruh wilayah kerajaan dan menjadikan Islam sebagai agama resmi Kerajaan Konawe.

Dalam melakukan siar itu juga La Ode Teke diberikan lahan bercocok tanam dari Sabulakoa, Sampara hingga Soropia hingga Kecamatan Sawa  Kabupaten Konut saat ini.

Selain itu raja Lakidende memberikan parang Taawu dan bertitah jika dalam melakukan siar Islam ada rombongannya terbunuh satu, dia boleh membunuh satu atau lebih musuhnya.

Dalam melakukan siarnya itu juga La Ode Teke juga menggunakan Alquran tua tulisan tangan yang hingga kini tersimpan di kediamaan H. Abdul Gani bin Lawulo. Setelah mangkat, La Ode Teke dimakamkan di Porokota Desa Andadowi.

“Bukti peninggalan syiar Islam La Ode Teke di Kerajaan Konawe, masih tersimpan di rumah Kakek, H Abdul Gani berupa Alquran tulisan tangan yang diperkirakan ditulis pada Abad 17 dan Taawu yang diberikan langsung oleh Raja Lakidende kepada gurunya La Ode Teke,” ungkapnya.

Nurhadi menceritakan bahwa sesuai dengan tulisan kakeknya dan penelitian sejarawan, La Ode Teke sebelum ke Konawe, mempunyai pengajian di Pulau Wawonii dan Kulisusu. Salah satu muridnya yakni Lakidende (Sangia Ngginoburu) sendiri.

Diceritakan bahwa La Ode Teke adalah salah seorang anak asuhan (Murid) Syekh Syarief Muhammad. Ia menuntut ilmu di Kesultanan Buton di bawah pengawasan Sultan Saqiuddin Darul Alam.

La Ode Teke menikah dengan Wa Ode Wabinte yang merupakan anak Kapitalau Lohia. Memiliki anak tiga yakni, La Ode Hasan (Latasi), Wa Ode Konde (Wakonde) dan La Ode Buali. Keturunan-keturunannya inilah yang berkembang di wilayah Konawe dan Kota Kendari.

Facebook Comments Box