Barantin Gagalkan Pemasukan 98 Kg Daging Babi tanpa dokumen ke Sultra

Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Sultra, berhasil gagalkan pemasukan 98 Kg Daging Babi tanpa dokumen.
Listen to this article

Kendari, Datasultra.com – Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Tenggara (Karantina Sultra) berhasil mencegah masuknya daging babi asal Surabaya dengan berat 98 kg ke wilayah Sultra.

Daging babi tersebut ditemukan petugas karantina saat melakukan pengawasan di Cargo Bandara Haluoleo dan mencurigai 3 boks dengan kemasan karung.

Ketua Tim Kerja Karantina Hewan Karantina Sultra, Nichlah Rifqiah menjelaskan, setelah dilakukan pemeriksaan ditemukan daging babi di dalam boks tersebut dan tidak dilengkapi dokumen karantina sehingga dilakukan penahanan, Jumat 26 Juli 2024.

“Penahanan kami lakukan setelah mengetahui bahwa daging tersebut tidak dilengkapi sertifikat sanitasi produk karantina hewan atau KH-12 dari daerah asal dan tidak melaporkan serta menyerahkan kepada petugas karantina di tempat pemasukan dan pengeluaran yang ditetapkan,” jelasnya melalu rilis yang diterima oleh Media ini, Minggu 28 Juli 2024.

Sementara jtu, Ketua tim kerja penegakan hukum Karantina Sultra Abdul Rachman menyampaikan, daging babi tersebut diduga telah melanggar Pasal 88 jo pasal 35 ayat (1) huruf a dan c Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

“Bahwasanya media pembawa produk hewan berupa daging yang dilalulintaskan namun tidak disertai dengan dokumen karantina dan tidak dilaporkan petugas karantina untuk dilakukan tindakan karantina, maka dilakukan penahanan melalui penerbitan Surat Perintah Penahanan atau KH8a,” bebernya.

Terpisah, Kepala Karantina Sultra A Azhar mengatakan, Karantina Sultra berkomitmen menjaga pulau Sulawesi dari ancaman masuknya penyakit hewan ikan dan tumbuhan yang secara tidak langsung akan merugikan masyarakat.

“Daging babi tanpa dokumen tersebut dikhawatirkan dapat membawa hama penyakit hewan karantina African Swine Fever atau biasa disebut ASF dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), karena asal daging tersebut berstatus endemis dan wilayah Sultra berstatus bebas,” imbuhnya. (Rk)

 

Facebook Comments Box