
Buton Selatan, Datasultra.com- Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Buton Selatan (Busel) terus menunjukkan komitmen serius dalam menekan angka stunting di wilayahnya.
Berdasarkan data tahun 2021, angka stunting di Busel sempat mencapai 45,2 persen, menempatkannya sebagai wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi kedua di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Namun, melalui berbagai upaya kolaboratif, angka tersebut berhasil ditekan secara signifikan.
Kepala DPPKB Busel, La Asari, mengungkapkan bahwa kerja keras bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan tim percepatan penurunan stunting telah membuahkan hasil.
“Alhamdulillah, pada tahun 2022, angka stunting di Busel turun menjadi 32 persen,” ujarnya.
Penurunan ini merupakan hasil dari implementasi dua sistem penilaian, yaitu Aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
EPPGBM dilakukan setiap bulan melalui posyandu oleh dinas kesehatan setempat, sementara SSGI dilakukan setahun sekali oleh pemerintah pusat melalui provinsi.
“Dua sumber data ini menjadi acuan utama kami dalam memantau perkembangan penanganan stunting,” jelas La Asari.
Meskipun pada tahun 2023 angka stunting sempat naik menjadi 37,6 persen, kabar baik datang pada tahun 2024. Berdasarkan penilaian EPPGBM, angka stunting di Busel dilaporkan turun menjadi 22 persen.
“Kami masih menunggu konfirmasi resmi dari SSGI, tetapi hasil sementara menunjukkan penurunan yang signifikan. Harapan kami, angka ini bisa lebih rendah lagi, mengingat target Presiden adalah 14 persen pada tahun 2024,” tambahnya.
Upaya penurunan stunting di Buton Selatan menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antarinstansi dan program berbasis data dapat menghasilkan perubahan positif.
Pemerintah daerah berharap, dengan terus mengoptimalkan program-program yang ada, target nasional penurunan stunting dapat tercapai. (Rk)





