
Kendari, Datasultra.com- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara (Sultra) menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Kepala KPwBI Sultra, Doni Septadijaya, dalam acara Media Gathering BI Sultra yang digelar di salah satu restoran di Kendari, Rabu 12 Februari 2025.
Doni mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Sultra pada tahun 2024 mencapai 5,40 persen, meningkat dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 5,35 persen.
Sektor pertanian menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang 23,48 persen terhadap perekonomian daerah, diikuti oleh sektor pertambangan (21,13 persen), industri pengolahan (9,40 persen), dan sektor lainnya (45,99 persen).
“Dari angka-angka tersebut, terlihat jelas bahwa pertanian masih menjadi sektor unggulan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Sultra,” ujar Doni kepada para media.
Bahkan, jika dibandingkan dengan provinsi tetangga seperti Sulawesi Tengah (Sulteng) dan Maluku Utara (Malut), kontribusi sektor pertanian Sultra masih lebih tinggi. Sulteng hanya menyumbang 15,80 persen, sementara Malut sebesar 12,44 persen.
Namun, meski menjadi sektor unggulan, nilai nominal Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sultra masih tergolong rendah.
Pada tahun 2024, sektor pertanian Sultra hanya mencapai Rp26 triliun, jauh di bawah Sulteng dan Malut. Sektor pertambangan Sultra menyumbang Rp22 triliun, sedangkan industri pengolahan mencapai Rp11 triliun.
“Angka ini masih rendah jika dibandingkan dengan dua daerah lainnya, yaitu Sulteng dan Malut. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama untuk meningkatkan nilai PDRB Sultra,” tegas Doni.
Doni juga mengingatkan bahwa Sultra saat ini masih masuk dalam kategori Lower Middle Income atau daerah berpenghasilan menengah ke bawah.
Hal ini menjadi tantangan serius, terutama dalam menghadapi visi Indonesia Emas 2045 yang menargetkan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita mencapai US$30.000.
“Untuk mencapai target tersebut, diperlukan kerja sama dari semua pihak, terutama pemerintah daerah. Salah satunya dengan melakukan akselerasi industri pengolahan non-tambang serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM),” pungkas Doni.
Dengan potensi sektor pertanian yang besar, Sultra diharapkan dapat terus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional, sekaligus memperbaiki kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. (N1)





