STAH Bhatara Guru Kendari: Lentera Pendidikan Hindu di Bumi Anoa

Kadek Yogiarta/Nang Bagia
Listen to this article

Kendari, Datasultra.com – Di tengah geliat pembangunan Sulawesi Tenggara dan pesatnya perkembangan perguruan tinggi, terdapat sebuah institusi yang mungkin belum banyak dikenal namun memiliki peran strategis dalam memajukan pendidikan keagamaan Hindu di wilayah timur Indonesia.

Lembaga tersebut adalah Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Bhatara Guru Kendari, yang berdiri pada tahun 2017 sebagai buah dari perjuangan panjang dan mimpi kolektif umat Hindu di Bumi Anoa.

Didirikan di bawah naungan Yayasan Ganapati Jaya Kendari, binaan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sulawesi Tenggara, kampus ini menjadi simbol harapan, martabat, dan kemandirian umat Hindu di Sulawesi Tenggara.

Kebutuhan yang Telah Lama Diharapkan

Keberadaan umat Hindu di Sulawesi Tenggara bukanlah fenomena baru. Berdasarkan data Bimas Hindu Kanwil Kemenag Sultra, pada tahun 2025 jumlah umat Hindu di wilayah ini mencapai sekitar 54 ribu jiwa yang tersebar di 120 desa dan kelurahan di 60 kecamatan dari 13 kabupaten/kota.

Sejak program transmigrasi tahun 1968 yang mengawali komunitas Hindu di Desa Jati Bali, Konawe Selatan, kebutuhan akan lembaga pendidikan tinggi agama Hindu terus mengemuka.

Selama bertahun-tahun, generasi muda Hindu terpaksa menempuh pendidikan agama di luar daerah seperti Bali, NTB, Jakarta, dan Kalimantan Tengah. Setiap tahun, belasan pemuda Hindu harus mengajukan permohonan rekomendasi untuk kuliah di tempat-tempat tersebut.

Kehadiran STAH Bhatara Guru Kendari menjawab kerinduan panjang tersebut sebagai wadah belajar dan membangun jati diri dalam bingkai spiritualitas Hindu di tanah kelahiran mereka sendiri.

Lahir dari Cita-cita Kolektif

Pendirian STAH tidak lahir secara instan. Gagasan tersebut telah mengemuka sejak Lokasabha PHDI Sultra tahun 2005 dan diperkuat dalam Grand Design Hindu Sultra 2050 yang menegaskan pentingnya pembangunan lembaga pendidikan Hindu dari jenjang TK hingga perguruan tinggi.

Kepengurusan PHDI Sultra masa bhakti 2016–2021 di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Eng. I Nyoman Sudiana, M.Si mulai merealisasikan cita-cita tersebut.

Dengan restu Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI saat itu, alm. Prof. Drs. I Ketut Widnya, M.A., M.Phil., Ph.D., dibentuklah Yayasan Ganapati Jaya Kendari sebagai badan hukum penyelenggara.

Nama “Bhatara Guru” dipilih sebagai penghormatan terhadap tokoh spiritual Hindu pertama dalam sejarah Kerajaan Buton sebuah akar budaya lokal yang selama ini kurang mendapat sorotan.

Perkembangan yang Signifikan

Melalui SK Dirjen Bimas Hindu Nomor: 171 Tahun 2017, STAH Bhatara Guru Kendari resmi mendapat izin operasional dan memulai tahun ajaran 2017/2018 dengan dua program studi: Pendidikan Agama Hindu dan Penerangan Agama Hindu. Sebanyak 53 mahasiswa menjadi angkatan pertama.

Hingga tahun 2025, jumlah mahasiswa aktif telah mencapai 200 orang. Tiga angkatan telah diwisuda dengan total 88 lulusan. Sebagian besar alumni telah bekerja di sektor pemerintahan dan swasta, bahkan beberapa di antaranya telah diangkat sebagai ASN melalui jalur PPPK, khususnya sebagai guru agama Hindu pada jenjang SMA/SMK maupun di pemerintah daerah.

Berlokasi strategis di Jalan Mekar Indah, Kelurahan Kadia, Kota Kendari bersebelahan dengan Pura Penataran Agung Jagadhita STAH Bhatara Guru Kendari tidak hanya menjadi pusat akademik, tetapi juga pusat spiritual umat Hindu di Sultra.

Untuk tahun akademik 2025/2026, kampus ini membuka penerimaan mahasiswa baru untuk dua program studi: Pendidikan Agama Hindu dan Komunikasi Hindu. Selain itu, STAH juga menyediakan beasiswa KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan beasiswa khusus bagi mahasiswa kurang mampu sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pemerataan pendidikan.

Harapan: Menuju Status Negeri di Kawasan Timur Indonesia

Memasuki usia delapan tahun, STAH Bhatara Guru Kendari telah mengantongi akreditasi institusi dan program studi. Sebagai satu-satunya perguruan tinggi Hindu di Sultra, harapan besar terus mengiringi kiprah kampus ini.

Upaya peningkatan mutu secara berkelanjutan baik dalam aspek akademik, tata kelola, penelitian, dan pengabdian masyarakat menjadi fokus utama. STAH diharapkan mampu menjadi center of excellence pendidikan Hindu di Kawasan Timur Indonesia, serta pusat pengkajian, pelestarian, dan pengembangan nilai-nilai dharma serta kebudayaan Hindu Nusantara.

Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, umat, tokoh agama, dan masyarakat harapan besar disematkan agar STAH Bhatara Guru Kendari dapat segera bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Agama Hindu Negeri pertama di kawasan timur Indonesia. Sebuah lompatan penting demi menjawab kebutuhan lokal dan memperkuat jaringan pendidikan Hindu di tanah air.

Penulis adalah Wakil Ketua Bidang Humas dan Kerjasama STAH Bhatara Guru Kendari.

Facebook Comments Box