
Baubau, Datasultra.com – Dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS Kesehatan Cabang Baubau terus melakukan berbagai langkah strategis.
Salah satunya melalui monitoring dan evaluasi berkala terhadap indikator kepatuhan fasilitas kesehatan (faskes).
Sepanjang tahun 2025, tingkat kepatuhan faskes di wilayah Baubau menunjukkan tren positif. Hal ini menjadi indikasi meningkatnya kesadaran fasilitas kesehatan dalam memberikan pelayanan sesuai standar BPJS Kesehatan.
Pejabat Pelaksana Sementara (PPS) Kepala BPJS Kesehatan Cabang Baubau, Prima Rezkiah, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil sinergi antara BPJS Kesehatan dan rumah sakit.
Namun, ia menegaskan masih ada aspek yang perlu ditingkatkan, terutama terkait pemanfaatan teknologi digital dan efisiensi waktu layanan.
“Secara umum, kinerja FKRTL memang cukup memuaskan. Tetapi kami ingin mendorong optimalisasi pemanfaatan Aplikasi Mobile JKN dan i-Care JKN, karena teknologi ini dirancang untuk mempercepat dan mempermudah proses pelayanan. Selain itu, masih ada rumah sakit dengan waktu pelayanan yang melampaui standar ideal, yakni 60 menit. Hal ini perlu diperbaiki agar layanan bisa lebih responsif,” jelas Prima.
Menurutnya, lamanya waktu tunggu dapat memengaruhi kepuasan peserta dan efektivitas diagnosis. Karena itu, pengendalian waktu pelayanan menjadi indikator penting yang terus dipantau.
BPJS Kesehatan juga mendorong pemanfaatan antrean online untuk mengurangi penumpukan pasien sekaligus meningkatkan kenyamanan.
Prima menambahkan, keterbatasan jumlah tenaga kesehatan memang menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan komitmen dan sinergi antara BPJS Kesehatan, faskes, dan pemerintah daerah, persoalan tersebut dapat dikelola. Ia pun mengapresiasi faskes yang terbuka terhadap kritik dan masukan peserta JKN.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, Fanti Frida Yanti, menuturkan bahwa kendala utama peningkatan mutu layanan adalah minimnya dokter spesialis di sejumlah faskes. Kondisi ini menyebabkan beberapa poli harus melayani pasien melebihi kapasitas.
“Kami akui keterbatasan dokter spesialis menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Ada beberapa poli yang dalam periode tertentu melayani pasien di atas kapasitas ideal. Bukan karena kurang perencanaan, melainkan permintaan layanan yang tinggi sementara tenaga ahli masih terbatas,” ujarnya.
Dinkes Baubau, lanjut Fanti, melakukan monitoring internal setiap bulan terhadap indikator kepatuhan BPJS Kesehatan, sekaligus membentuk tim monitoring independen untuk menjaga objektivitas.
“Peningkatan mutu layanan tidak bisa hanya dari sisi manajerial. Harus ada kesadaran kolektif dari seluruh tenaga medis di lapangan, mulai dari dokter, perawat, hingga petugas administrasi. Karena itu, kami mendorong keterlibatan lintas profesi dalam forum-forum mutu dan peningkatan kapasitas,” tambahnya.
Fanti menekankan bahwa kualitas layanan kesehatan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi semua pihak, termasuk masyarakat. Ia berharap dengan dukungan teknologi, regulasi yang tepat, dan komitmen bersama, mutu layanan JKN di Kota Baubau akan semakin meningkat. (Sir)





