
Kendari, Datasultra.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Halu Oleo (UHO) Batch 2 yang tengah melaksanakan pengabdian di Desa Langklowala, Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, meluncurkan sebuah inovasi penting dalam pengelolaan sampah.
Inovasi tersebut berupa program kerja bernama ASMA (Alat Pembakaran Sampah Minim Asap), yang dirancang untuk mengatasi permasalahan sampah sekaligus mengurangi pencemaran udara di desa setempat.
Ketua Kelompok KKN UHO di Desa Langklowala, Dimas Nugraha, menjelaskan latar belakang diciptakannya alat ini.
Ia menjelaskan bahwa sampah menjadi salah satu masalah utama di lingkungan masyarakat desa tersebut.
Penumpukan sampah tidak hanya menimbulkan bau tidak sedap, tetapi juga pembakaran sampah yang dilakukan secara konvensional menghasilkan asap tebal yang mencemari udara dan berpotensi merugikan kesehatan warga.
Berdasarkan pengamatan tersebut, tim KKN UHO memutuskan untuk mengembangkan sebuah alat pembakaran yang dapat meminimalkan emisi asap dan zat berbahaya.
“Program ASMA ini dirancang dengan dilengkapi lubang-lubang strategis yang terletak di bagian bawah dan atas alat. Lubang-lubang ini berfungsi sebagai jalur keluarnya asap secara bertahap, sehingga proses pembakaran berjalan secara efisien dan asap yang keluar menjadi sangat minim,” Kata Dimas, Senin 1 September 2025.
Prinsip kerjanya memastikan sampah yang dibakar terurai menjadi gas, abu, dan residu dengan emisi asap yang sangat rendah, menjadikan alat ini jauh lebih ramah lingkungan.
ASMA dapat digunakan untuk membakar berbagai jenis sampah rumah tangga, baik organik maupun anorganik, sehingga secara signifikan mampu mengurangi volume limbah yang menumpuk.
Dari segi biaya, pembuatan ASMA tergolong terjangkau karena menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh, seperti drum bekas, baja ringan, kawat las, gerinda, dan cat untuk finishing.
Sementara itu, Penanggung Jawab Program ASMA, Ahmad Wahyudi, memaparkan tujuan dan manfaat jangka panjang dari inovasi ini.
“Tujuan utama program ini adalah menciptakan pengelolaan sampah yang lebih efektif dan bertanggung jawab, dengan meminimalkan emisi gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO₂), dan senyawa kimia lain yang dapat merusak sistem pernapasan,” kata Ahmad.
Lebih dari sekadar membakar sampah, alat ini juga memiliki nilai keberlanjutan. Hasil pembakaran yang berupa abu dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk atau pestisida alami, sehingga mendukung ekonomi sirkular dan upaya keberlanjutan lingkungan di desa.
Sasaran program ini adalah seluruh masyarakat Desa Langklowala yang selama ini terbiasa membakar sampah secara terbuka. Melalui serangkaian sosialisasi dan pelatihan, mahasiswa KKN UHO berharap warga dapat mengadopsi teknologi sederhana ini dalam aktivitas sehari-hari.
Harapan besar dari implementasi program ASMA ini adalah terciptanya Desa Langklowala yang lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali.
Dampak positifnya tidak hanya pada pengurangan polusi udara, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat serta pencegahan berbagai penyakit yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan.
Inovasi ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih peduli dan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan secara bijaksana. (Rk)





