
Baubau, Datasultra.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Baubau kembali menggelar Lomba Kabanti yang diikuti oleh para kepala sekolah tingkat SD dan SMP se-Kota Baubau.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 7 hingga 9 Oktober 2025, di Panggung Kesenian Kantor Dinas Dikbud Baubau.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Dikbud Baubau, Masrun, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang telah dilaksanakan sejak empat tahun terakhir.
Tahun ini, pesertanya difokuskan pada para kepala sekolah, dengan tujuan agar semangat pelestarian budaya dapat ditularkan ke lingkungan pendidikan masing-masing.
“Kegiatan lomba Kabanti ini dimulai Selasa, 7 Oktober, diawali dengan technical meeting, dilanjutkan dengan lomba pada Rabu dan final sekaligus pengumuman juara pada Kamis 9 Oktober,” ujar Masrun saat ditemui di lokasi kegiatan, Rabu 8 Oktober 2025.
Lebih lanjut, Masrun menerangkan bahwa pelaksanaan lomba Kabanti merupakan bagian dari amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang mencakup sepuluh objek pemajuan kebudayaan (OPK).
Kabanti sendiri, sambung dia, tidak hanya mewakili satu OPK, melainkan tiga sekaligus yakni seni, bahasa, dan manuskrip.
“Kabanti ini masuk dalam tiga objek pemajuan kebudayaan, yaitu seni, bahasa, dan manuskrip. Manuskrip karena sumbernya berasal dari naskah kuno pada masa Kesultanan Buton. Teks yang dibacakan sekarang merupakan hasil pengetikan ulang dari naskah asli,” jelasnya.
Adapun karya Kabanti yang dilombakan meliputi Kaluku Panda, Pakeana Arifu, Nuru Mulabi, Tula-Tula Koburu, dan satu karya lainnya sebagaimana tercantum dalam panduan lomba.
Salah satu Kabanti, Kaluku Panda, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
“Setelah ditetapkan sebagai WBTB Nasional, daerah juga diwajibkan melaksanakan kegiatan pelestarian. Penetapan itu bisa dicabut jika tidak dibarengi dengan upaya pelindungan, pemanfaatan, dan pengembangan. Karena itu, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pelestarian Kabanti,” ungkap Masrun.
Tahun ini, panitia menargetkan sekitar 100 peserta dari kepala sekolah SD dan SMP negeri maupun swasta.
Namun, Masrun mengakui bahwa belum semua satuan pendidikan mengirimkan perwakilannya. Meski demikian, antusiasme peserta dinilai cukup tinggi.
“Saya apresiasi peserta, banyak kepala sekolah yang bukan orang Wolio tetapi mereka antusias dan tampil bagus. Mereka punya waktu latihan sekitar sebulan setelah kami kirimkan undangan,” tutur Masrun.
Lomba Kabanti tahun ini melibatkan empat orang juri, yakni pengawas sekolah sekaligus akademisi sejarah, pelaku Kabanti, maestro Kabanti, serta perwakilan generasi muda pelaku seni tradisi Baubau.
Masrun berharap, kegiatan ini dapat menjadi momentum bagi dunia pendidikan untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap bahasa dan sastra Wolio di kalangan pendidik dan peserta didik.
“Kabanti ini bukan hanya soal sastra, tapi di dalamnya ada nilai seni, bahasa, dan kearifan lokal. Kami harapkan melalui kepala sekolah, nilai-nilai budaya ini bisa dihidupkan kembali di sekolah-sekolah,” pungkasnya. (Sir)





