Wakil Wali Kota Baubau Tutup Festival Kabanti, Tekankan Pentingnya Warisan Budaya dalam Pembangunan SDM

Wakil Wali Kota Baubau, Wa Ode Hamsinah Bolu saat menyerahkan hadiah dan piala kepada pemenang Lomba Festival Kabanti yang digelar di Panggung Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Baubau, Kamis 9 Oktober 2025.
Listen to this article

Baubau, Datasultra.com – Wakil Wali Kota Baubau, Wa Ode Hamsinah Bolu, secara resmi menutup Lomba Festival Kabanti antar Kepala Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Kota Baubau, yang digelar di Panggung Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Baubau, Kamis 9 Oktober 2025.

Dalam sambutannya, Hamsinah menekankan pentingnya pelestarian warisan budaya lokal seperti Kabanti (manuskrip sastra Buton kuno) sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter dan berakar pada nilai-nilai kebudayaan.

“Kota Baubau adalah kota budaya. Tidak hanya benda-benda peninggalan seperti benteng, tetapi juga warisan nonbenda seperti bahasa, manuskrip, dan Kabanti. Ini bukan sekadar menjaga warisan leluhur, tetapi juga alat membangun SDM yang bermartabat,” ujar Hamsinah.

Ia mengingatkan bahwa visi dan misi Kota Baubau 2025–2030 menempatkan Baubau sebagai kota budaya yang ramah, cerdas, sejahtera, dan bermartabat.

Kata bermartabat, menurutnya, menjadi penegasan penting dalam arah pembangunan kota agar kemajuan yang dicapai tidak semata bersifat fisik, tetapi juga menyentuh aspek nilai dan karakter.

“Pembangunan di Kota Baubau tidak sekadar maju dan canggih, tetapi harus terus diwarnai oleh kekayaan budaya Buton. Itulah yang membuat kita berbeda dan berakar,” ungkapnya.

Hamsinah turut menyampaikan apresiasi tinggi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Baubau serta para kepala sekolah dan guru yang telah berpartisipasi dalam festival ini.

Ia menilai keterlibatan para pendidik dalam kegiatan kebudayaan merupakan wujud nyata kepedulian terhadap pelestarian nilai-nilai lokal di tengah arus perubahan zaman.

“Kewajiban Bapak Ibu guru sebenarnya menjalankan kurikulum nasional. Tapi ketika Bapak Ibu juga turut menjaga manuskrip Kabanti, itu adalah tugas ekstra yang luar biasa. Kalau bukan kita yang menjaga warisan leluhur ini, lalu siapa lagi? Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi?” tegasnya.

Ia berharap ke depan Festival Kabanti dapat lebih disosialisasikan dan dibuka untuk masyarakat luas, tidak hanya di lingkungan Dinas Dikbud.

“Kalau perlu, tahun depan kita buat di Kotamara, di panggung terbuka, agar bisa diakses masyarakat umum dan menjadi tontonan sekaligus tuntunan bagi anak-anak kita,” tuturnya.

Di akhir sambutannya, Hamsinah menyinggung pentingnya menjaga kearifan lokal di tengah fenomena disrupsi budaya yang kian cepat.

Menurutnya, mengajarkan nilai-nilai budaya sejak dini melalui Kabanti dan bahasa daerah dapat menjadi benteng moral dan karakter bagi generasi muda.

“Ketika kita melestarikan Kabanti, sebenarnya kita sedang membangun karakter bangsa. Inilah cara terbaik menyentuh hati anak-anak kita agar tumbuh menjadi insan yang paripurna,” pungkasnya. (Sir)

Facebook Comments Box