Catatan Menjadi Ketua Panitia Pemilihan RT/RW, Kadek Yogiarta: Menjaga Marwah Demokrasi dari Gang Kecil Kita

Listen to this article

Kendari, Datasultra.com- Dalam sepekan terakhir, fokus saya ke satu tugas yang mungkin tampak sederhana, tetapi menyimpan makna, menjadi Ketua Panitia Pemilihan RW 07/RT masa bhakti 2025-2030 di Kelurahan Anawai, Kecamatan Wua-Wua, Kota Kendari.

Demi menyelesaikan amanat ini saya mengurangi konsentrasi di kantor yang kebetulan akhir tahun agak longgar, dan juga pada aktivitas mengajar maupun mengikuti kuliah online yang hanya sekedar hadir di layar bahkan tidak konsen pada tugas tugas.

Tidak ada motif politik, apalagi ekonomi yang ada hanya satu dorongan tanggung jawab sebagai masyarakat sebagaimana mandat dari Ketua RT 03.

Saya menikmatinya dan enjoy meskipun ada sedikit gangguan karena umur, sebelumnya, pada 2024 saya pernah menjadi Ketua KPPS pada di Pemilu Legislatif maupun Pilwali, dua proses yang berjalan baik dan lancar.

Namun kali ini berbeda. Di tingkat warga, politik tidak diukur dari baliho besar dan modal mahar, melainkan dari solidaritas, emosi sosial, dan rasa saling percaya.

Sejak awal, kami diperhadapkan pada satu fakta yang menggelitik nurani tidak ada satu rupiah pun dukungan anggaran APBD. Tidak ada alokasi, dan mungkin karena daerah sedang menutup defisit. Namun kehidupan warga tidak berhenti hanya karena anggaran berhenti.

Dalam rapat perdana, dan juga informasi pengalaman dan juga dari RW lain justru menambah kegelisahan bahwa biaya operasional dibebankan kepada calon, berkisar Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Alasannya, demi pendataan, lokasi, logistik, dan agar warga tidak dibebani, karena yang menikmati honor nanti adalah calon.

Sekilas tampak praktis namun secara moral, itu menyesakkan. Demokrasi tidak boleh lahir dari ukur mengukur tebal tipis dompet. Jika ongkos menjadi gerbang seleksi, maka yang menang adalah daya beli, bukan legitimasi sosial.

Karena itu saya memilih langkah berbeda mengajak warga bergotong-royong melalui sumbangan sukarela. Tidak ada paksaan. Tidak ada tarif. Hanya solidaritas dan apa hasilnya?dana cukup warga ringan tangan calon tidak terbebani panitia bekerja tenang. Inilah demokrasi yang tumbuh dari akar budaya kita urunan, bukan pungutan.

Setelah isu pembiayaan mereda, datang komplain baru melalui grup WA dan secara langsung dari calon tentang pemilihan lokasi TPS yang awalnya saya tentukan di Posyandu BTN Permata Anawai berdasarkan pertimbangan dan keputusan rapat.

Saya tidak menutup kuping, protes bukan gangguan ia adalah vitamin demokrasi. Kami membuka forum bersama para calon, mendengar keberatan mereka, dan akhirnya meminta Ketua RW membentuk tim independen dari tokoh masyarakat serta pihak kelurahan.

Namun situasi psikologis membuat keputusan kembali ke panitia. Pada titik itu saya memilih kembali ke pangkal bertanya langsung kepada warga, dari beberapa warga yang saya kenal dari saran ke saran, dari aspirasi ke aspirasi, saya mengubah keputusan TPS di pindahkan sebagaimana harapan warga, konsekuensinya, warga membantu menyiapkan lokasi, meja, kursi, hingga tenda tambahan.

Perubahan sikap bukan kelemahanitu kemenangan akal sehat. Kompromi bukan tunduk pada tekanan itu cara menempatkan kepentingan umum di atas ego kelompok.

Tanggal 20, pemilihan berlangsung tertib, tingkat partisipasi cukup tinggi pada angka 80 persen berdasarkan kehadiran pemiluh. Lurah Anawai dan Camat Wua-Wua datang memantau.
Penghitungan dilakukan terbuka, angka tidak pernah berbohong, Calon Ketua RW 07 saudara Usman Afandi unggul 134 suara atas Bantina (92 suara). RT 03, Hardian menang 44 suara atas Asrahim (34 suara).

Empat RT lain terpilih aklamasi karena hanya satu pendaftar. Itulah demokrasi tanpa aroma uang, tanpa mahar, tanpa karpet merah, yang berbicara adalah suara warga.

Harapan saya sederhana para ketua terpilih baik RW 07 dan RT tidak menjadikan jabatan sebagai aksesori sosial, tetapi sebagai ladang pelayanan, warga tidak butuh hanya simbol saja, mereka butuh hadir, yang dibutuhkan bukan hanya nama dan identitas saja melainkan kepedulian, pelayanan, rasa aman dan nyaman karena adanya pemimpin, yang siap memikul amanah.

Demokrasi di tingkat warga adalah barometer paling jujur kualitas demokrasi nasional, di sinilah kita bisa melihat apakah masyarakat masih percaya pada proses, apakah kita masih menghormati pilihan berbeda, apakah kita masih mengerti bahwa kalah itu bukan aib, menang bukan hak istimewa.

Jika pemilihan kecil ini dijaga dengan dedikasi, maka marwah demokrasi bangsa aman. Jika diabaikan, demokrasi tinggal menjadi slogan tanpa ruh, tanpa rasa, tanpa keteladanan. Kini kita sudah punya pemimpin baru untuk lima tahun yang akan datang.

Saatnya berhenti berjarak, saatnya meninggalkan kubu, saatnya bersatu sebagai warga, yang terpenting bukan siapa yang menang kemarin, melainkan apa yang bisa kita kerjakan besok. Anak-anak menyaksikan proses ini dan kelak mereka akan meniru apa yang mereka lihat.

Maka mari jadikan lingkungan kita contoh yang lebih dewasa daripada gonjang-ganjing politik nasional. RW 07 Kelurahan Anawai, Kecamatan Wua-Wua, sudah membuktikan satu hal kita tidak butuh uang untuk menjaga martabat demokrasi, kita hanya butuh warga yang mau peduli dan itu kita punya Itu modal terbesar kita.

Penulis: Kadek Yogiarta.

Ketua Panitia Pemilihan, Warga BTN Permata Anawai, Kelurahan Anawai, Wua Wua Kendari.

Facebook Comments Box