Menuju Satu Tahun Kepemimpinan ASR: Fondasi Kuat, Keteladanan Moral, dan Optimisme Masa Depan Sulawesi Tenggara

Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka (ASR).
Listen to this article

Penulis: Akril Abdillah

Kendari, Datasultra.com- Waktu adalah hakim paling jujur dalam menilai kualitas sebuah kepemimpinan. Ia tidak tunduk pada sorak-sorai, tidak tergoda oleh pencitraan, dan tidak bisa dimanipulasi oleh kata-kata.

Menjelang satu tahun masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka (ASR) bersama Wakil Gubernur Hugua, publik berada pada sebuah persimpangan reflektif: menengok capaian yang telah dirajut, sekaligus membaca arah masa depan yang perlahan disusun.

Tahun pertama bukanlah musim panen, melainkan fase menanam kebijakan, nilai, dan fondasi yang kelak menentukan arah sejarah pemerintahan.

Dalam rentang waktu itulah, pemerintahan ASR–Hugua memperlihatkan watak kepemimpinan yang tenang, terukur, dan bersahaja.

Tanpa gemuruh retorika populis, tanpa hiruk-pikuk janji yang berlebihan, pemerintah provinsi memilih bekerja melalui langkah-langkah kebijakan yang senyap namun berdampak.

Di tengah keterbatasan fiskal daerah dan tingginya ekspektasi publik, pendekatan ini mencerminkan kehati-hatian seorang negarawan bahwa pembangunan sejati tidak dibangun di atas kegaduhan, melainkan ketekunan dan konsistensi.

Salah satu fondasi paling mendasar yang diletakkan adalah pembangunan sumber daya manusia. Penyaluran beasiswa pendidikan senilai Rp4 miliar pada tahun 2025 bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, melainkan isyarat keberpihakan negara kepada masa depan.

Target peningkatan anggaran hingga Rp10 miliar pada tahun 2026 menegaskan kesinambungan visi tersebut. Pendidikan ditempatkan sebagai investasi strategis jangka panjang sebuah pilihan politik yang melampaui kepentingan sesaat dan menolak logika pragmatisme kekuasaan.

Dengan tata kelola yang terus diperkuat, kebijakan beasiswa ini berpotensi melahirkan generasi Sulawesi Tenggara yang tidak hanya terdidik, tetapi juga berdaya saing dan berkarakter.

Di sektor infrastruktur, perbaikan jalan provinsi sepanjang 36 kilometer dalam waktu kurang dari satu tahun menjadi penanda awal pemulihan denyut konektivitas wilayah. Jalan bukan sekadar hamparan aspal, melainkan urat nadi ekonomi dan sosial.

Meski belum menjawab seluruh kebutuhan, capaian ini menunjukkan ikhtiar pemerintah daerah untuk mengembalikan fungsi jalan sebagai penghubung harapan: mempercepat mobilitas masyarakat, menurunkan biaya logistik, dan memperkuat simpul-simpul ekonomi antarwilayah di Sulawesi Tenggara.

Pendekatan pembangunan yang menyeluruh juga tercermin pada sektor irigasi dan sumber daya air. Tuntasnya seluruh paket pekerjaan irigasi tahun 2025 dengan progres fisik 100 persen meliputi rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan talud pengaman pantai, serta normalisasi sungai menunjukkan kematangan perencanaan dan ketegasan eksekusi.

Kebijakan ini berdampak langsung pada ketahanan pangan, perlindungan kawasan pesisir, dan mitigasi bencana. Di balik angka dan laporan teknis, kebijakan tersebut sesungguhnya menyentuh urusan paling mendasar rakyat: pangan, keselamatan, dan keberlanjutan hidup.

Kerja-kerja tersebut tidak berjalan dalam ruang hampa. Sepanjang tahun 2025, Pemprov Sultra memperoleh berbagai pengakuan nasional mulai dari Peringkat Ketiga Nasional Bina Marga Sutami Award, Anugerah Keterbukaan Informasi Publik, penghargaan literasi, hingga apresiasi atas pengelolaan BUMD.

Penghargaan-penghargaan ini menjadi cermin eksternal bahwa tata kelola pemerintahan daerah bergerak menuju arah yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel. Ia bukan sekadar simbol prestise, melainkan penanda bahwa kerja birokrasi mulai menemukan irama yang tepat.

Namun, di antara seluruh capaian itu, yang paling menonjol dari kepemimpinan ASR adalah dimensi keteladanan moral. Sejak menjabat, ASR memilih untuk tidak menerima gaji sebagai gubernur dan tidak menggunakan fasilitas negara yang melekat pada jabatannya.

Gaji serta dana operasional gubernur dialihkan untuk mendukung sektor pendidikan melalui program beasiswa. Sebuah pilihan yang sunyi, tetapi bergema kuat: bahwa jabatan publik adalah amanah untuk melayani, bukan singgasana untuk dinikmati.

Nilai ini berkelindan dengan ajaran Islam tentang kepemimpinan dan tanggung jawab moral. Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kewenangan administratif, melainkan beban etis yang kelak dipertanggungjawabkan, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan.

Dalam bingkai inilah, keputusan ASR mengalihkan hak finansial pribadinya untuk kepentingan pendidikan dapat dibaca sebagai pengejawantahan nilai amanah dalam praktik pemerintahan modern sebuah sintesis antara etika keagamaan dan tata kelola negara.

Dalam perspektif teori kepemimpinan publik, tindakan tersebut dapat dibaca sebagai politics of example politik keteladanan.

Max Weber, melalui konsep ethic of responsibility, menekankan bahwa pejabat publik tidak hanya diukur dari kepatuhan pada aturan formal, tetapi juga dari kesadaran moral atas konsekuensi sosial dari setiap keputusan yang diambil.

Dalam konteks ini, pengalihan hak finansial pribadi ke sektor pendidikan menegaskan pemahaman bahwa jabatan publik adalah amanah, bukan sarana akumulasi keuntungan.

Ketika pemimpin memberi contoh integritas dan keberpihakan, nilai itu perlahan merembes ke dalam tubuh birokrasi, membentuk budaya kerja yang lebih bersih dan berorientasi pelayanan.

Tidak mengherankan jika ASR juga menerima Baznas Award 2025 sebagai Kepala Daerah Pendukung Gerakan Zakat Indonesia sebuah pengakuan atas komitmen terhadap solidaritas sosial dan keadilan ekonomi.

Menjelang satu tahun kepemimpinan, optimisme publik terhadap pemerintahan ASR–Hugua memiliki pijakan yang rasional. Fondasi pembangunan telah diletakkan, arah kebijakan mulai terbaca, dan keteladanan moral memberi legitimasi etis bagi setiap langkah pemerintah daerah.

Tantangan ke depan tentu tidak ringan, namun dengan konsistensi, kolaborasi lintas sektor, serta keterbukaan terhadap partisipasi publik, Sulawesi Tenggara memiliki peluang besar untuk melangkah lebih maju dan lebih adil.

Pada akhirnya, satu tahun pertama kepemimpinan ASR bukanlah penutup cerita, melainkan halaman pembuka dari perjalanan panjang pembangunan daerah.

Dengan fondasi yang kokoh, kerja nyata yang mulai terasa, serta kepemimpinan yang memadukan profesionalisme dan nilai moral, masa depan Sulawesi Tenggara layak disongsong dengan optimisme yang jernih optimisme yang lahir dari kerja, bukan sekadar harapan.

Facebook Comments Box