
Baubau, Datasultra.com— Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau menggelar rapat koordinasi mitigasi bencana bersama unsur terkait yang berlangsung di Aula Rapat Lantai II Kantor Wali Kota Baubau, Selasa 6 Januari 2026.
Rapat ini digelar sebagai langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana akibat kondisi cuaca dan alam yang kian tidak menentu.
Rapat tersebut dihadiri sejumlah unsur terkait, di antaranya Kodim, Polres Baubau, Basarnas, BMKG, BPBD, KSOP Pelabuhan, serta instansi teknis lainnya.
Kehadiran lintas sektor ini dinilai penting mengingat Baubau merupakan wilayah kepulauan dengan potensi risiko bencana darat dan laut.
Wakil Wali Kota Baubau, Wa Ode Hamsinah Bolu, menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana harus terus dibangun meskipun kondisi alam di Baubau berbeda dengan daerah lain yang kerap dilanda bencana besar.
“Di berbagai wilayah Indonesia bahkan di belahan dunia lain telah terjadi bencana yang masif dan menimbulkan banyak korban. Mudah-mudahan hal tersebut tidak terjadi di Baubau, namun kesiapsiagaan tetap harus kita bangun,” ujarnya.
Menurut Hamsinah, salah satu fokus utama rapat adalah pertukaran informasi terkait kondisi cuaca dari BMKG serta penguatan sistem kesiapsiagaan terpadu antarinstansi.
Ia menekankan pentingnya latihan bersama secara berkala agar penanganan bencana dapat dilakukan secara terkoordinasi.
“Penanggulangan bencana itu harus terintegrasi. Masing-masing memang punya tupoksi, tapi kalau tidak pernah latihan bersama, saat terjadi bencana bisa kagok di lapangan. Karena itu, kita sepakat perlu ada pelatihan rutin,” jelasnya.
Selain itu, Pemkot Baubau juga mendorong peningkatan kesiapsiagaan di sektor transportasi laut. Hamsinah menyoroti potensi kecelakaan laut yang menjadi salah satu risiko terbesar di wilayah kepulauan.
“Kita ini daerah laut, kecelakaan di laut adalah momok. Karena itu, kami minta kesiagaan di laut ditingkatkan,” tegasnya.
Pemkot Baubau berencana mewajibkan seluruh armada laut yang beroperasi dan bersandar di pelabuhan yang menjadi domain kota, seperti Pelabuhan Jembatan Batu dan pelabuhan lainnya, untuk melengkapi kapal dengan life vest atau pelampung yang memadai.
“Kita harus memberi pelayanan yang naik kelas, termasuk jaminan keamanan. Semua armada laut, baik speed boat, katinting, maupun jenis lainnya, wajib memiliki pelampung yang cukup untuk penumpang,” katanya.
Ia menambahkan, jarak pelayaran yang dekat tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan. Menurutnya, kecelakaan laut kerap terjadi justru saat perjalanan singkat karena faktor cuaca dan kondisi tak terduga.
Di akhir pernyataannya, Wakil Wali Kota Baubau mengimbau masyarakat agar lebih waspada di tengah kondisi cuaca ekstrem, baik saat bepergian melalui laut maupun saat beraktivitas di lokasi berisiko seperti sungai, bendungan, dan kawasan wisata alam.
“Kita tidak pernah tahu kondisi di hulu. Air bisa terlihat normal, tapi tiba-tiba datang air bah. Karena itu, kehati-hatian dan kewaspadaan masyarakat sangat penting,” pungkasnya. (Sir)





