Minggu, Oktober 4, 2026

BERITA TERKINI

POLITIK

MEMILIH NAKHODA KKSS KENDARI: ANTARA SIPAKATAU DAN KERUKUNAN DI TANAH RANTAU

Oleh: Andi Sultan Bakri, SKM., M.Sc
Pemerhati Sosial Budaya Sulsel di Kendari

Kendari, Datasultra.com- Menjelang pemilihan Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kota Kendari, diskursus tentang kriteria pemimpin ideal kembali mengemuka.

KKSS bukan sekadar organisasi paguyuban. Di tanah rantau, KKSS adalah rumah besar, payung, sekaligus jangkar identitas bagi perantau Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

Di Kendari, warga KKSS merupakan bagian dari denyut kehidupan ekonomi, pendidikan, dan birokrasi. Karena itu, memilih Ketua BPD KKSS Kota Kendari tidak semestinya sekadar memilih figur yang populer, tetapi memilih sosok pammaliang—pengayom.

1. KKSS di Rantau: Lebih dari Sekadar Paguyuban

Dalam perspektif sosiologi, KKSS di Kendari dapat dipandang sebagai community of solidarity. Fungsinya setidaknya mencakup tiga hal: sebagai wadah adaptasi bagi warga yang baru datang dari Sulawesi Selatan, sebagai mediator ketika terjadi persoalan sosial, dan sebagai penggerak ekonomi solidaritas atau abbulo sibatang.

Nilai luhur orang Sulsel harus menjadi landasan dalam kepemimpinan KKSS, yakni Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi—saling memanusiakan, saling mengingatkan, dan saling memuliakan.

Nilai itu juga sejalan dengan falsafah “Pura Manre Si Manre, Pura Sialle Si Alle”—siapa yang sudah makan, ajak yang belum; siapa yang sudah mendapatkan rezeki, ajak pula yang belum. Inilah semangat kebersamaan dan jiwa mengayomi yang seharusnya tumbuh dalam organisasi.

2. Tiga Kriteria Kunci Ketua BPD KKSS Kota Kendari

Berdasarkan kebutuhan organisasi di kota yang heterogen seperti Kendari, ada beberapa karakter penting yang layak menjadi pertimbangan dalam memilih pemimpin KKSS.

A. Mengayomi dan Merangkul Semua Kalangan

Ketua KKSS tidak boleh hanya menjadi ketua untuk kelompok Bugis Bone, Makassar Gowa, Wajo, atau rumpun tertentu saja. Ia harus menjadi milik seluruh keluarga besar KKSS.

Di Kendari ada pengusaha, ASN, pedagang di Pasar Mandonga, mahasiswa, sopir angkutan, hingga berbagai kelompok masyarakat lainnya. Semua harus merasa dirangkul dan memiliki tempat yang sama dalam rumah besar KKSS.

Pemimpin yang mengayomi adalah pemimpin yang hadir bukan hanya ketika ada pesta, tetapi juga ketika warga tertimpa duka, menghadapi persoalan sosial, sengketa, maupun persoalan hukum. Ia hadir sebagai penyejuk dan jembatan penyelesaian.

B. Tidak Tipis Telinga: Berpegang pada Getteng dan Lempu

Pepatah Bugis mengatakan, “Taroi Karawu, Nametti Pabbere”—simpan kebaikan, tetapi jangan menyimpan kebencian.

Salah satu tantangan dalam organisasi paguyuban adalah munculnya gosip, bisik-bisik, dan informasi sepihak yang berpotensi memicu perpecahan.

Ketua yang mudah terpengaruh oleh laporan dari satu-dua orang di lingkarannya berisiko mengambil keputusan tanpa mendengar pihak lain. Padahal, nilai Bugis-Makassar mengajarkan Getteng—teguh pada prinsip—serta Lempu—jujur dan adil dalam mengambil keputusan.

Mendengar semua pihak, melakukan konfirmasi atau tabayyun, kemudian mengambil keputusan secara bijaksana merupakan sikap yang penting dalam menjaga keutuhan organisasi.

Pemimpin yang mudah dipengaruhi dapat memperlebar sekat. Sebaliknya, pemimpin yang berpegang pada prinsip dapat menjadi perekat.

C. Menjadi Motivator Kerukunan Antar-etnis di Tanah Rantau

Tantangan KKSS di Kendari bukan hanya menjaga keharmonisan internal sesama warga Sulawesi Selatan, tetapi juga membangun hubungan yang baik dengan seluruh masyarakat di Sulawesi Tenggara.

Sebagai bagian dari masyarakat Kendari, warga KKSS hidup berdampingan dengan masyarakat Tolaki sebagai salah satu komunitas asli daerah ini, serta masyarakat Muna, Buton, dan berbagai kelompok etnis lainnya.

Karena itu, diperlukan pemimpin yang mampu menerjemahkan falsafah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” secara nyata.

Ketua KKSS harus mampu mengajak warganya menghormati kearifan lokal Kendari, aktif dalam kegiatan lintas etnis, serta membangun komunikasi dan kerja sama dengan berbagai kelompok masyarakat.

Ketua juga harus menjadi motivator yang mengajak warga meningkatkan kualitas diri, bukan sekadar berkumpul. Mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha baru, memotivasi generasi muda KKSS untuk berprestasi, serta menjaga nama baik Sulawesi Selatan di tanah rantau.

3. Penutup: Memilih Pemersatu, Bukan Pemecah

Musyawarah Daerah KKSS Kota Kendari hendaknya menjadi momentum konsolidasi dan memperkuat persaudaraan.

Kepemimpinan KKSS membutuhkan sosok yang mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok, kedekatan personal, maupun kepentingan sesaat.

Kita membutuhkan pemimpin yang:

1. Ketika kita susah, dia hadir.
2. Ketika ada masalah, dia mendengarkan semua pihak, bukan hanya satu pihak.
3. Ketika berbicara, yang disampaikan adalah ajakan untuk rukun, bukan ajakan untuk berkelompok.

Semoga BPD KKSS Kota Kendari ke depan dipimpin oleh nakhoda yang mampu membawa kapal besar ini berlayar dengan aman di Teluk Kendari, dengan layar terkembang bertuliskan:

“Satu Keluarga, Satu Hati, untuk Kendari yang Rukun.”

Abbulo Sibatang, Acca Sipitang, Sipakatau.

Kendari, 3 Oktober 2026

Facebook Comments Box

BERITA POPULER