Widyalaya: Jalan Terjal, Harapan Cerah Pendidikan Umum Bercirikan Agama Hindu di Bumi Anoa

Nang Bagia (Kadek Yogiarta) Pemerhati Masalah Sosial dan Pendidikan.
Listen to this article

Kolaka Timur, Datasultra.com- Dalam sejarah panjang perjalanan umat Hindu di Sulawesi Tenggara yang saat telah hampir setengah abad mendiami Sualwesi Tenggara, pada tahun 2015 menjadi titik awal sebuah babak penting.

Sebuah sekolah kecil bernama Pratama Widya Pasraman Dwitawana Saraswati berdiri di Kabupaten Kolaka Timur, menjadi tonggak awal hadirnya pendidikan keagamaan Hindu formal di bumi Anoa.

Sekolah ini lahir bukan dari kemewahan, tetapi dari keyakinan dan semangat pengabdian meski hanya bermodalkan 31 siswa, semangatnya jauh melampaui angka itu.

Kini satu dekade hampir berlalu sejak regulasi pemerintah melalui PMA No. 56 Tahun 2014 dan diperbarui PMA No. 10 Tahun 2020 tentang Pendidikan Keagamaan Hindu membuka ruang berdirinya satuan pendidikan keagamaan Hindu formal.

Dahulunya kita menyebutnya Widya Pasraman dan kini, seiring diterbitkannya PMA No. 2 Tahun 2024, kita menyebutnya Pendidikan Widyalaya.

Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 2 Tahun 2024 tentang Pendidikan Widyalaya, menyebutkan bahwa pendidikan Widyalaya merupakan lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Hindu.

Pendidikan Widyalaya diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta didik memiliki akhlak mulia, menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kompetensinya agar dapat hidup mandiri dan mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih lanjut.

Adanya regulasi ini bukan hanya sekedar perubahan nama saja, tetapi adalah transformasi dalam dunia pendidikan Hindu di Indonesia dan merupakan sejarah yang menandai perubahan signifikan dalam sistem pendidikan Hindu di Indonesia.

Perubahan ini bertujuan membawa pendidikan Hindu menuju arah yang lebih terstruktur dan menyeluruh, dengan menyediakan kurikulum komprehensif.

Jika dulu pasraman terkesan sebagai lembaga pendidikan berbasis agama yang bersifat tradisional dan sederhana, kini Widyalaya hadir sebagai sistem pendidikan formal Hindu yang setara dengan madrasah dalam Islam berjenjang dari PAUD hingga SMA, dengan kurikulum terpadu yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, spiritualitas, dan akademik.

Saat ini Pendidikan Widyalaya di Sulawesi Tenggara hingga pertengahan tahun 2025, sebanyak 14 Widyalaya telah memperoleh izin operasional dari Direktorat Jenderal Bimas Hindu. Persebarannya mencakup Kabupaten Kolaka Timur (4 Widyalaya), Konawe (2 Widyalaya), dan Konawe Selatan (8 Widyalaya).

Sebuah pencapaian yang sungguh menggembirakan dan luar biasa yang patut kita apresiasi. Namun, apakah jalan menuju ke sana mulus? Tentu tidak.

Membangun dari Nol: Antara Mimpi dan Kenyataan

Widyalaya dibangun bukan hanya dengan material batu dan semen saja, tetapi dengan semangat ngayah (pengabdian) dari para tokoh umat, guru, dan pengelola Lembaga yang punya pandangan dan cita-cita yang sama.

Mereka berjuang tanpa pamrih, menghadapi keterbatasan dana, sarana prasarana, dan bahkan skeptisisme sebagian masyarakat sendiri. Tak jarang, suara suara pesimis mengatakan: “Untuk apa mendirikan sekolah Hindu kalau tidak mampu bertahan?” Tapi, para pelopor Widyalaya memilih untuk tuli atas pesimisme itu.

Dengan harapan dan doa, mereka terus melangkah. Mereka tidak hanya mendirikan gedung, tetapi juga membangun karakter dan masa depan generasi Hindu. Mereka tahu bahwa Widyalaya adalah tempat menanamkan sradha, bhakti, (iman dan taqwa) dan sadhu guna (kebijaksanaan) dan juga keterampilan lain sebagai bekal kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.

Tantangan yang Belum Usai

Widyalanya saat ini meskipun baru seumur jagung, telah berdiri dan beroperasi, tantangan Widyalaya masih sangat nyata. Terutama dalam hal pembiayaan dan dukungan masyarakat.

Saat ini mayoritas Widyalaya masih bergantung pada bantuan pemerintah baik melalui melalui Ditjen Bimas Hindu Kemenag RI, Bimas Hindu Kanwil Kementrian Agama Provinsi, maupun Kankemenag Kab/Kota.

Dukungan umat secara finansial masih dirasa minim, baik karena keterbatasan ekonomi maupun kurangnya kesadaran.

Kita perlu bertanya jujur apakah kita sudah benar-benar merasa memiliki Widyalaya? Apakah kita sudah mendukungnya, bukan hanya dalam bentuk dana, tetapi juga kepercayaan dan promosi kepada generasi muda? Widyalaya bukan sekolah eksklusif.

Ia terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar dalam nuansa nilai-nilai Hindu. Justru dengan memperkuat lembaga ini, kita sedang membangun peradaban Hindu yang damai, terbuka, maju dan modern.

Menatap Masa Depan dengan Optimisme

Ke depan, kita bermimpi besar, bahwa Widyalaya tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi sekolah unggulan yang mampu bersaing secara nasional dan bahkan internasional seperti madrasah saat ini.

Kita ingin melihat Widyalaya hadir di kabupaten-kabupaten lain seperti, Bombana, Buton Utara, Bau-Bau, Muna Barat, dan wilayah lain yang memiliki potensi besar.

Mimpi ini bukan utopia, saat ini saja kita dapat menyaksikan Widyalaya kita sudah mulai menamatkan siswa, senyum sumringah dari siswa yang tamat, kretaifitas seni budaya yang ditampilkan saat penamatan dengan begitu apik oleh siswa dan guru adalah cermin keberhasilan pendidikannya, kita mulai menyaksikan fasilitas pendukung yang bertahap mulai tersedia, tenaga pendidik yang semakin berkualitas dan sistem pembelajaran yang semakin inovatif.

Perubahan sedang berlangsung tapi perubahan hanya akan berbuah jika kita semua bergerak bersama.

Menjadikan Widyalaya Pilihan Pertama

Salah satu harapan terbesar saat ini adalah Widyalaya tidak lagi menjadi pilihan terakhir, atau cadangan tetapi pilihan utama. Tempat orang tua menitipkan anak-anaknya untuk didik, bukan karena disebabkan tidak ada pilihan lain tetapi karena percaya pada kualitas pendidikan dan karakter yang dibentuk di dalamnya.

Mimpi lainnya adalah menjadikan satuan Pendidikan Widyalaya sebagai sekolah umum negeri bercirikan agama Hindu agar status guru dan pembiayaan lebih terjamin. Ini bukan soal gengsi tapi soal keadilan dan keberlanjutan. Sebab guru yang sejahtera akan lebih maksimal mendidik dan Widyalaya yang kuat akan menjadi tiang penyangga umat Hindu yang tangguh.

Sebuah Dharma Dalam Pendidikan

Widyalaya bukan sekadar satuan pendidikan Ia adalah perwujudan dharma (kebajikan) dalam dunia modern, tempat dimana nilai-nilai Hindu tidak hanya diajarkan, tetapi dihidupi. Tempat dimana anak-anak didik menjadi manusia utuh cerdas, beriman, berkarakter, kreatif, inovatif, adaftif dan mengikuti perkembangan zaman.

Mari kita jaga dan dukung Widyalaya, bukan hanya sebagai sekolah, tetapi sebagai cahaya harapan bagi masa depan umat Hindu Indonesia dan secara khusus umat Hindu di Bumi Anoa Sulawesi Tenggara. Jalan ini mungkin terjal, tapi harapan kita tetap cerah karena Widyalaya bukan sekadar bangunan, ia adalah rumah masa depan anak-anak kita.

Facebook Comments Box