
Kendari, Datasultra.com- Setahun sudah saya meninggalkan jabatan fungsional guru dan beralih menjadi pelaksana. Bukan karena jenuh, apalagi lelah menjadi pendidik, melainkan murni pertimbangan efektivitas kerja.
Meski demikian, belasan tahun sebagai guru dan hingga kini masih mengajar di perguruan tinggi menjadikan profesi ini sebagai bagian terindah dalam perjalanan hidup saya.
Ada kegembiraan yang tak tergantikan ketika setiap pagi berangkat ke sekolah sambil bertanya kepada diri sendiri: ilmu dan nilai apa yang bisa saya titipkan hari ini agar kelak menjadi pedoman bagi siswa?
Sejak peradaban kuno hingga era modern, bangsa mana pun selalu menempatkan guru pada posisi yang luhur. Dalam ajaran Hindu, martabat guru setara dengan para dewa; ketaatan kepada guru diyakini sebagai kunci keberhasilan spiritual maupun sosial.
Para filosof klasik hingga modern sepakat: guru sejati bukan hanya mencerdaskan intelektual, tetapi membimbing peserta didik agar tumbuh menjadi manusia berkarakter dan berbudi luhur.
Ki Hajar Dewantara mempertegas makna itu: guru ibarat petani yang dengan sabar merawat, menuntun, dan mengarahkan, bukan memaksa. Tugasnya membantu setiap anak menemukan potensi sejatinya.
Namun, realitas hari ini tidak selalu memberi ruang bagi guru untuk berkembang secara ideal. Pemerintah melalui berbagai regulasi menuntut guru berprestasi, tetapi pada saat yang sama guru pula yang paling cepat disorot ketika ada masalah pendidikan.
Guru adalah manusia biasa dengan energi dan waktu yang terbatas. Banyak tuntutan tidak sebanding dengan pembinaan dan dukungan yang diterima.
Tunjangan Profesi Guru (TPG) bahkan kerap dianggap beban negara, seolah-olah profesi lain tidak mendapatkan insentif serupa. Padahal, nilai TPG sebesar satu kali gaji pokok itu sudah bertahun-tahun tidak mengalami penyesuaian signifikan.
Pandangan sebagian masyarakat bahwa menjadi guru itu “enak karena bekerja setengah hari” adalah narasi keliru yang harus diluruskan. Sesungguhnya, beban kerja guru berlangsung 24 jam. Selesai mengajar bukan berarti selesai bekerja.
Administrasi pembelajaran, perangkat ajar, hingga evaluasi sering dibawa pulang dan diselesaikan pada malam hari. Guru juga memikul beban psikologis: memikirkan murid yang kesulitan belajar, menghadapi persoalan keluarga, atau menunjukkan perubahan perilaku.
Banyak guru tetap membaca, merancang pembelajaran, dan memeriksa tugas hingga larut, tanpa panggung selain ketulusan hati.
Dan lebih sunyi lagi adalah perjuangan menjadi guru di Widyalaya, satuan pendidikan umum berciri khas Hindu yang regulasinya melalui PMA No. 2 Tahun 2024 baru berjalan kurang dari dua tahun sebelumnya dikenal sebagai Widya Pasraman atau Pasraman Formal.
Para guru Widyalaya adalah wujud paling nyata dari pahlawan tanpa tanda jasa. Honor kecil dan sering tidak jelas, sertifikasi baru lulus tahun ini tetapi besaran jauh di bawah satu kali gaji pokok karena tanpa jabatan fungsional, serta ketidakpastian ekonomi yang seolah menjadi ritus pengabdian.
Namun semangat itu tak pernah padam. Ada atau tidak ada program, cair atau tidak cair tunjangan, dihargai atau tidak semua sudah menjadi keseharian. Terbiasa menghadapi tekanan, keterbatasan, dan kenyataan pahit.
Menjadi guru di Widyalaya ibarat membabat hutan belantara: penuh lelah, penuh letih, dengan peralatan seadanya. Banyak yang memulai kelas dari nol, jumlah siswa bisa dihitung dengan jari, fasilitas serba terbatas, sumber daya minim, bahkan pengakuan pun kadang samar.
Namun para guru itu percaya, hutan belantara yang mereka buka suatu hari akan menjadi bangunan kokoh bernama masa depan. Tempat yang kelak bukan hanya dicari, tetapi juga dirindukan oleh para siswa. Widyalaya yang hari ini masih dibangun dan digali akan tumbuh menjadi rumah suci ilmu yang dikenang sepanjang hayat.
Sebagai seseorang yang pernah berada di ruang kelas itu, saya amat memahami betapa berat tugas guru. Karena itu, saya menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh pendidik di negeri ini. Jangan pernah lelah. Jalan menjadi guru adalah panggilan hidup, bukan kebetulan apalagi keterpaksaan.
Profesi ini mungkin tidak menjanjikan kemewahan duniawi, tetapi memberikan kekayaan batin yang tak ternilai kebahagiaan melihat siswa tumbuh, berhasil, dan menjadi manusia yang baik.
Terima kasih kepada para guru atas dedikasi yang tidak selalu terlihat, pengorbanan yang tidak selalu dipahami, dan ketulusan yang tidak selalu dihargai. Semoga semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak pernah padam.
Selamat Hari Guru Nasional. Semoga kemuliaan profesi ini senantiasa terjaga, dan cinta para guru terus menjadi cahaya perjalanan bangsa.
Penulis: Mantan Guru





