Rabu, Februari 4, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

JASF 2026: Panggung Kreativitas Mahasiswa Jurnalistik UHO, Dari Tari hingga Film Bertema Sultra

Listen to this article

Kendari, Datasultra.com – Taman Budaya Sulawesi Tenggara berubah menjadi ruang perayaan kreativitas pada 17–18 Januari 2026.

Mahasiswa Jurnalistik Universitas Halu Oleo (UHO) sukses menggelar Journalistic Art and Stories Festival (JASF) 2026, sebuah ajang yang memamerkan beragam karya mahasiswa mulai dari seni pertunjukan, film, hingga foto jurnalistik.

Festival yang berlangsung sejak sore hari ini mendapat sambutan hangat dari dosen, pegiat seni, hingga masyarakat umum.

JASF 2026 menjadi bukti bahwa karya mahasiswa tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi mampu hadir dan dinikmati publik luas.

Ketua Program Studi Jurnalistik UHO, Marsia Sumule Genggong menjelaskan, JASF merupakan implementasi nyata dari mata kuliah Film dan Sinematografi yang ada dalam kurikulum Prodi Jurnalistik.

“JASF adalah ruang kolaborasi berbagai keahlian mahasiswa jurnalistik. Mulai dari seni tari hingga pemutaran film yang seluruhnya digarap oleh mahasiswa,” ujar Marsia saat membuka acara.

Menurutnya, film-film yang ditayangkan merupakan hasil karya mahasiswa yang mengambil mata kuliah Film dan Sinematografi, mata kuliah wajib yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan produksi film, baik fiksi maupun dokumenter.

“Karena itu, kami sebagai pengelola prodi membuka ruang agar mahasiswa bisa menampilkan karyanya melalui festival ini,” tuturnya.

Melalui JASF 2026, mahasiswa didorong untuk menunjukkan kapasitas mereka sebagai calon profesional di bidang media visual dan audio-visual.

Marsia berharap festival ini menjadi pijakan awal mahasiswa untuk terus mengasah keterampilan dan memperluas pengalaman berkarya.

Film yang diputar dalam JASF 2026 hadir dengan beragam genre, mulai dari horor, komedi, hingga drama, namun tetap mengangkat cerita yang dekat dengan realitas masyarakat Sulawesi Tenggara.

Marsia juga mengapresiasi antusiasme mahasiswa yang dinilainya luar biasa. Dalam waktu relatif singkat, mahasiswa mampu menghasilkan karya yang berkualitas berkat kepekaan jurnalistik serta bimbingan dosen pengampu.

“Memang masih ada yang perlu diperbaiki, tapi ini adalah langkah yang sangat baik. Proses belajar mereka terlihat jelas dari karya-karya yang ditampilkan,” katanya.

Ia pun menegaskan bahwa kreativitas mahasiswa tidak boleh berhenti setelah festival usai. Kampus berharap apa yang telah ditanamkan melalui perkuliahan dapat terus dikembangkan, bahkan mampu menembus festival film nasional hingga internasional.

Sementara itu, Dosen Mata Kuliah Film dan Sinematografi UHO, Trisusilo Raharjo, menyebut JASF 2026 sebagai penyelenggaraan tahun kedua setelah pertama kali digelar pada 2025.

“Tiap tahun kami mengangkat tema yang dekat dengan masyarakat Sulawesi Tenggara. Tahun lalu ‘Kendari Kota Kita’, dan tahun ini ‘Sultra For Everyone’ dengan tema film ‘Sultra Untold Story’,” jelasnya.

Sebanyak sembilan film ditayangkan, hasil karya sembilan kelompok mahasiswa dari tiga kelas berbeda. Meski bebas memilih genre, seluruh film tetap harus relevan dengan tema besar yang diusung.

Untuk kepanitiaan, mahasiswa angkatan 2023 berperan sebagai panitia inti dan pembuat film, sementara angkatan 2025 berkontribusi melalui pameran foto jurnalistik.

Tak hanya film dan pameran foto, JASF 2026 juga dimeriahkan berbagai agenda lain seperti lomba mewarnai, penampilan tari empat etnis, pemaparan materi kreatif, hingga stan kuliner UMKM lokal.

Festival ini bukan sekadar ajang pamer karya, tetapi menjadi bukti bahwa mahasiswa Jurnalistik UHO siap bercerita, berkarya, dan membawa kisah Sulawesi Tenggara ke panggung yang lebih luas. (N1)

Facebook Comments Box

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

81 − = 77

Popular Articles