Peringati 10 Muharram, Pemkot Baubau Gelar Pakandeana Anaana Maelu

Pemkot Baubau menyelenggarakan ritual adat Pakandeana Anaana Maelu (memberi makan anak yatim piatu) di Rujab Wali Kota Baubau, Selasa 16 Juli 2024.
Listen to this article

Baubau, Datasultra.com- Masyarakat Wolio memiliki pemahaman bahwa 10 Muharram adalah bulan yang mengandung nilai-nilai sejarah, karena di bulan tersebut terjadi beberapa spiritual terkait dengan beberapa peristiwa di bulan Muharram.

Olehnya itu, sebagai bentuk penghormatan, penghargaan, serta pelestarian kebudayaan, Pemkot Baubau menyelenggarakan ritual adat Pakandeana Anaana Maelu (memberi makan anak yatim piatu) di Rujab Wali Kota Baubau, Selasa 16 Juli 2024.

Hal ini mengandung maksud, agar di hari tersebut Anaana Maelu merasa gembira dan bahagia meskipun mereka tidak memiliki orang tua.

Disamping itu, sebagai isyarat bagi semua orang bahwa menyantuni dan mengasihi anak yatim piatu itu adalah merupakan perkara yang wajib untuk dilaksanakan bagi setiap muslim.

Kegiatan yang diprakarsai oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Baubau tersebut menghadirkan ratusan anak yatim yang tersebar di 43 kelurahan dan panti asuhan Kota Baubau.

Kepala Dinas Dikbud Kota Baubau Eko Prasetya menuturkan, peringatan 10 Muharram memberikan makan kepada anak yatim piatu ini seperti tahun tahun sebelumnya yang sudah menjadi tradisi.

“Momentum ini adalah memberikan penguatan bagi kita semua bahwa kita masih punya saudara yang mungkin hari ini kurang beruntung dari kita, sudah tidak punya orang tua, ada baiknya sama sama merasakan,” tuturnya.

Kata dia, Pakandeana Anaana Maelu ini adalah kegiatan rutin tahunan setiap 10 Muharram di Kota Baubau.

“Harapannya kegiatan seperti ini tidak hanya setiap 10 Muharram saja tapi di hari hari lainnya juga untuk bagaimana kita bersama sama merasakan dan bergandengan bahwa kehidupan ini bukan hanya milik kita, tapi milik bersama,” pungkasnya.

Untuk diketahui, tradisi budaya Pakandeana Anaana Maelu diperkirakan ada sejak pertengahan abad ke-16, dimana saat itu terjadi peralihan dari sistim pemerintahan kerajaan menjadi sistim pemerintahan Kesultanan Buton ditandai dengan masuknya ajaran agama Islam.

Ritual adat Pakandean Anaana Maelu diawali dengan doa awal oleh Moji Tertua Perangkat Masjid Wolio, dilanjutkan dengan Palimba Pasali dan Paperou, Tandamina Gowa dan Pasipo yang diiringi Salawat Nabi Muhammad SAW.

Pembacaan doa akhir oleh Moji Termuda Perangkat Masjid Wolio, doa dan harapan semoga Anaana Maelu mendapatkan kemuliaan Allah SWT dan kekuatan dalam menjalani kehidupannya kelak nanti serta didoakan pula semoga cukup mereka yang kehilangan sosok orang tua, anak turunan dan keluarganya tidak merasakan hidup seperti mereka. Ritual Adat Pakadeana Anaana Maelu ditutup dengan Pokeni Lima Adhati. (Sir)

Facebook Comments Box