Baubau, Datasultra.com — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Baubau tengah menyiapkan pilot project pengembangan jagung pakan sebagai bagian dari sistem pertanian terintegrasi yang menghubungkan sektor tanaman pangan dan peternakan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Baubau, Ibnu Wahid, mengatakan pihaknya baru-baru ini meninjau lahan jagung pakan seluas 5 hektare yang akan dijadikan percontohan awal.
Jagung yang dikembangkan tersebut bukan untuk konsumsi manusia, melainkan khusus sebagai pakan ternak, berbeda dengan jagung manis yang selama ini ditanam di wilayah Sorawolio.
“Program saya ke depan adalah membumikan jagung pakan ini. Kita mulai dari yang kecil, tidak langsung berhektar-hektar. Cukup 1 kilogram benih yang ditanam masyarakat,” ujar Ibnu Wahid, Senin 2 Februari 2026.
Ia menjelaskan, varietas yang akan dikembangkan adalah jagung Madura karena bersifat konvensional, tahan banting, dan dapat ditanam ulang.
Dari 1 kilogram benih, jagung Madura mampu menghasilkan sekitar 200 hingga 300 kilogram, meski produksinya lebih rendah dibanding jagung hibrida yang bisa mencapai 400 hingga 500 kilogram namun tidak dapat ditanam kembali.
“Kalau 1 kilo kita berikan ke masyarakat, hasilnya bisa 100 sampai 200 kilo. Sepuluh persennya bisa ditanam lagi. Kalau ini konsisten, dalam 11 bulan nilainya bisa miliaran,” jelasnya.
Ibnu Wahid menekankan bahwa pengembangan jagung pakan ini dirancang terintegrasi dengan sektor peternakan.
Limbah tanaman jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara kotoran ternak diolah kembali menjadi pupuk kompos untuk mendukung kesuburan lahan pertanian.
“Ini sistem terintegrasi. Jagung hidup, ternak hidup, pupuk kembali ke lahan. Semua saling menghidupkan,” katanya.
Dari sisi pemasaran, ia memastikan hilirisasi jagung pakan sudah memiliki kepastian.
Selain Bulog yang siap menyerap hasil produksi, pihaknya juga telah menjalin komunikasi langsung dengan pabrik pengolahan pakan ternak di kawasan Kampeonaho.
“Masyarakat tidak perlu bingung menjual ke mana. Saya sudah bicara langsung dengan pengusahanya, minimal 1 ton sudah bisa diserap,” ujarnya.
Pilot project pengembangan jagung pakan ini akan difokuskan di Kecamatan Sorawolio, Bungi, dan Lea-Lea, termasuk pemanfaatan lahan tidur.
Selain melibatkan masyarakat, Dinas Pertanian juga akan mengembangkan percontohan melalui dua Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dengan total lahan sekitar 5 hektare.
Ibnu Wahid menegaskan komitmennya untuk mendukung program swasembada pangan nasional, khususnya komoditas padi, jagung, dan kedelai, sekaligus membangun kesadaran petani melalui pendampingan langsung di lapangan.
“Saya tidak mau hanya duduk di atas meja. Saya mau jadi teman sejawat petani, membangun komitmen bersama,” tegasnya. (Sir)


