Kendari, Datasultra.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara kembali mempererat sinergi dengan insan pers melalui kegiatan Bincang Jasa Keuangan (BIJAK).
Forum ini menjadi ruang diskusi strategis untuk membahas perkembangan sektor jasa keuangan sekaligus memperkuat edukasi masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai aktivitas keuangan ilegal.
Kegiatan yang digelar di Learning Center OJK Sulawesi Tenggara pada 5 Maret 2026 tersebut diikuti 64 peserta, terdiri dari 17 anggota Satgas PASTI Sultra serta 47 insan media dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara.
Kepala OJK Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, menyampaikan bahwa hingga saat ini kondisi sektor jasa keuangan di daerah masih berada dalam kondisi stabil dengan kinerja yang terus menunjukkan tren positif.
Menurutnya, OJK terus mendorong penguatan struktur industri jasa keuangan di daerah, salah satunya melalui kebijakan strategis pada sektor perbankan.
“Salah satu langkah yang sedang didorong adalah proses konsolidasi atau peleburan Bank Perekonomian Rakyat (BPR). Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat permodalan, serta memperluas layanan kepada masyarakat,” ujar Bismi.
Selain penguatan industri, OJK juga menaruh perhatian pada pemerataan akses pembiayaan di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara.
Meski penyaluran kredit secara umum mengalami pertumbuhan, OJK menilai masih ada beberapa daerah dengan realisasi kredit yang relatif rendah.
Karena itu, industri perbankan didorong lebih aktif menangkap potensi ekonomi lokal, terutama dalam memperluas pembiayaan pada sektor produktif dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan.
Dalam sesi pemaparan, Manajer Pengawasan OJK Sultra Muhammad Dwi Wicaksana menjelaskan bahwa hingga Januari 2026, kinerja perbankan di Sultra menunjukkan pertumbuhan yang solid.
Total aset perbankan tercatat mencapai Rp61,43 triliun, tumbuh 6,5 persen secara tahunan (year on year). Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp33,64 triliun atau meningkat 5,9 persen, dan penyaluran kredit sebesar Rp42,59 triliun dengan pertumbuhan 5,1 persen.
Dari sisi kualitas kredit, kondisi juga tetap terjaga dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 2,10 persen, yang masih berada dalam kategori sehat.
Sementara itu, Manajer Madya Perlindungan Konsumen, Edukasi dan Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK Sultra, Desiyani Patra Rapang, memaparkan capaian kegiatan literasi keuangan yang terus digencarkan OJK.
Sepanjang Januari 2025 hingga Februari 2026, OJK Sultra telah menggelar 378 kegiatan edukasi keuangan yang diikuti 210.134 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pelaku UMKM hingga masyarakat umum, termasuk masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Di sisi perlindungan konsumen, OJK Sultra juga mencatat 1.713 pengaduan masyarakat terkait layanan sektor jasa keuangan. Sebagian besar laporan berasal dari sektor perbankan.
Selain itu, layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) juga terus dimanfaatkan masyarakat, dengan total 5.224 permintaan informasi selama periode tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Kasubdit II Ekonomi Khusus Ditreskrimsus Polda Sultra, AKBP Ahmad Mega Rahmawan, mengungkapkan pihak kepolisian bersama Satgas PASTI tengah mendalami dugaan aktivitas investasi ilegal yang beredar di masyarakat.
Sejauh ini, aparat telah melakukan pemeriksaan terhadap enam orang saksi dalam proses penyelidikan kasus tersebut.
Pihak kepolisian menghimbau masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, serta segera melapor jika menemukan tawaran investasi yang mencurigakan.
Menutup kegiatan tersebut, OJK kembali mengingatkan masyarakat agar selalu menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis, sebelum memutuskan untuk berinvestasi.
OJK juga berharap sinergi dengan insan media terus diperkuat agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat semakin luas, akurat, dan edukatif, sehingga ekosistem sektor jasa keuangan di Sulawesi Tenggara tetap terjaga stabil dan kondusif. (N1)


