Baubau, Datasultra.com – Tim Penggerak (TP) PKK Kota Baubau terus memperkuat peran perempuan dalam pembangunan daerah melalui kegiatan Advokasi Kebijakan dan Pendampingan Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Bidang Politik, Hukum, Sosial, dan Ekonomi.
Kegiatan tersebut resmi diluncurkan di Aula Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Baubau, Senin 2 November 2026.
Program ini diselenggarakan melalui Sistem Pendidikan Pemberdayaan Perempuan bekerja sama dengan Akademi Paradigta Indonesia PEGAS PEKKA.
Ketua TP PKK Kota Baubau, Hj Sitti Aryati Yusran, dalam sambutannya menegaskan bahwa PKK memiliki posisi strategis sebagai penyuluh, motivator, sekaligus penggerak masyarakat dalam mendukung agenda prioritas pembangunan daerah.
Menurutnya, terdapat delapan fokus pembangunan Kota Baubau yang membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pengendalian inflasi, pengentasan kemiskinan ekstrem, peningkatan penyerapan produk lokal hingga penanganan stunting.
Ia menilai perempuan dan anak merupakan kelompok yang rentan terdampak berbagai persoalan tersebut. Bahkan, persoalan nonkesehatan seperti tekanan ekonomi, kemiskinan, dan minimnya pemberdayaan perempuan dapat menjadi faktor yang memengaruhi kondisi gizi serta daya saing keluarga.
“Perempuan harus menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri agar mampu menghadirkan perubahan signifikan bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Semangat inilah yang menjadi titik temu antara PKK, pemerintah daerah, dan PEGAS PEKKA,” ujarnya.
Sitti Aryati juga menyampaikan apresiasi kepada Perkumpulan Penggerak Perubahan Ekosistem Perempuan Kepala Keluarga (PEGAS PEKKA) yang telah memilih Kota Baubau sebagai salah satu wilayah intervensi program.
Melalui pendidikan terstruktur Akademi Paradigta, para peserta diharapkan mampu meningkatkan kapasitas kepemimpinan di tingkat akar rumput, sekaligus memiliki keberanian dan kemampuan untuk terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan publik.
Ia juga mengajak seluruh kader PKK mulai dari tingkat kelurahan hingga kota, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, serta berbagai lembaga perempuan untuk memperkuat sinergi dan membangun komunikasi yang terbuka.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu melahirkan perempuan-perempuan pelopor yang mandiri, tangguh, dan berdaya, sehingga dapat berkontribusi nyata dalam menjawab berbagai tantangan sosial maupun ekonomi di Kota Baubau. (Sir)


