Rabu, September 2, 2026

BERITA TERKINI

POLITIK

BPS: Harga Ikan Turun Jadi Pemicu Deflasi Sultra Agustus

Kendari, Datasultra.Com – Harga sejumlah komoditas pangan yang mulai turun membuat Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat deflasi 0,31 persen pada Agustus 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra mencatat, secara bulanan atau month to month (m-to-m), terjadi penurunan harga sebesar 0,31 persen. Namun secara tahunan, Sultra masih mengalami inflasi 3,35 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,02.

Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto mengatakan turunnya harga ikan menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap deflasi pada Agustus.

“Ternyata harga ikan sekarang sudah mulai turun dibandingkan beberapa bulan kemarin. Jadi sangat berpengaruh. Memang siklus-siklus itu biasa terjadi dalam ekonomi kita,” kata Hadi saat ditemui di Kantor BPS Sultra, Selasa (01/09/2026).

Menurut Hadi, perubahan harga tersebut diketahui melalui pemantauan dan survei yang dilakukan BPS secara rutin di pasar. Sejumlah komoditas yang sebelumnya mengalami kenaikan harga kemudian kembali turun pada Agustus.

Selain ikan, tomat dan ikan layang juga tercatat mengalami penurunan harga. Kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan harga komoditas berada pada level rendah, melainkan dapat menjadi tanda harga kembali ke kondisi normal setelah mengalami kenaikan pada bulan sebelumnya.

“Bisa jadi harga di bulan Juli dari komoditas tersebut tinggi. Jadi ketika harganya kembali normal, itu tercatat sebagai penurunan harga,” jelasnya.

Hadi menilai deflasi yang terjadi pada Agustus merupakan bagian dari siklus pergerakan harga. Karena itu, deflasi tidak selalu harus dipandang sebagai kondisi buruk bagi perekonomian.

Menurutnya, yang perlu diperhatikan adalah penyebab penurunan harga. Jika harga turun karena kembali normal setelah sebelumnya melonjak, kondisi tersebut justru dapat memberikan ruang bagi masyarakat sebagai konsumen.

Sebaliknya, pemerintah perlu turun tangan jika harga jatuh terlalu rendah karena produsen kehilangan pasar dan terpaksa menjual komoditas dengan harga murah.

“Harga kalau terlalu tinggi, konsumen kasihan. Tapi harga kalau terlalu rendah, produsennya yang kasihan,” ujarnya.

Ia menambahkan, tidak ada satu batas angka yang dapat dijadikan patokan untuk menentukan kapan pemerintah harus melakukan intervensi.

Sebab, kondisi masing-masing komoditas berbeda dan harus dilihat berdasarkan perkembangan harga serta kondisi pasar.

Di Sultra, penurunan harga tersebut terjadi cukup merata. Dari empat kabupaten/kota yang rutin dipantau BPS, seluruhnya tercatat mengalami deflasi secara bulanan pada Agustus 2026.

“Semuanya itu tercatat deflasi. Kompak semuanya deflasi,” kata Hadi.

Meski demikian, jika dibandingkan dengan Agustus 2025, seluruh wilayah tersebut masih berada dalam kondisi inflasi. Kota Kendari mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,66 persen dengan IHK 113,23. Sedangkan Kabupaten Konawe menjadi daerah dengan inflasi tahunan terendah sebesar 2,48 persen dengan IHK 113,90.

Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Agustus 2026, inflasi Sultra tercatat 4,02 persen.

Tekanan inflasi tahunan masih terlihat pada seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,01 persen, diikuti transportasi 6,66 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 3,36 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,14 persen, pendidikan 3,08 persen, serta perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,63 persen.

Sementara kelompok makanan, minuman dan tembakau naik 2,07 persen; informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,99 persen; rekreasi, olahraga dan budaya 1,09 persen; kesehatan 0,76 persen; serta pakaian dan alas kaki 0,27 persen.

Hadi mengatakan kondisi deflasi di Sultra juga sejalan dengan kecenderungan nasional, meskipun secara nasional Indonesia masih mencatat inflasi.

“Secara nasional masih terjadi inflasi, meskipun inflasinya relatif lebih rendah dibanding sebelumnya. Gejala umumnya memang terjadi perbaikan harga atau harga menurun. Sementara di Sulawesi Tenggara, saking turunnya sampai tercatat deflasi,” pungkasnya. (N1)

Facebook Comments Box

BERITA POPULER