Baubau, Datasultra.com – Pemerintah Kota Baubau mempercepat transformasi digital sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya dengan menyiapkan Benteng Keraton Buton menuju pengakuan UNESCO.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari arah pembangunan yang disampaikan Wali Kota Baubau H. Yusran Fahim, SE, pada upacara peringatan Hari Jadi Baubau ke-485 dan HUT ke-25 sebagai daerah otonom, Sabtu 17 Oktober 2026.
Dalam amanatnya, Yusran menegaskan bahwa pembangunan Baubau harus tetap berjalan di tengah tantangan fiskal dan dinamika ekonomi.
Peningkatan infrastruktur, seperti jalan, drainase, jaringan air bersih, serta pelayanan dasar di bidang kesehatan dan pendidikan, tetap menjadi prioritas pemerintah daerah.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas Baubau yang berakar pada peradaban Kesultanan Buton dan falsafah leluhur Bolimo Karo Somanamo Lipu, yang mengajarkan agar kepentingan bersama didahulukan daripada kepentingan pribadi maupun golongan.
Dari sisi pembangunan manusia, Baubau mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 80,29 pada akhir 2025. Sementara itu, di bidang investasi, realisasi penanaman modal sepanjang 2026 mencapai Rp139 miliar.
Pertumbuhan investasi tersebut didukung masuknya sejumlah usaha modern, revitalisasi Pasar Wameo, penyiapan pasar penyangga, serta penyelenggaraan Baubau Expo yang diharapkan memperluas peluang kerja dan memperkuat daya saing UMKM lokal.
Di bidang digitalisasi, Pemkot Baubau menjalin kolaborasi dengan Balai Besar Komdigi Makassar melalui kesepakatan pelatihan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta penguatan konektivitas digital di wilayah kota.
Baubau juga terus mempersiapkan diri mendukung sejumlah program strategis nasional, di antaranya pengembangan Bandara Betoambari, Makan Bergizi Gratis, Koperasi Kelurahan Merah Putih, Kampung Nelayan Merah Putih, dan Sekolah Rakyat.
Selain pembangunan dan digitalisasi, pelestarian warisan budaya menjadi perhatian penting pemerintah daerah. Benteng Keraton Buton dipersiapkan untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemkot Baubau menjadwalkan Simposium Budaya Buton pada 28 Oktober 2026 untuk mendukung pemenuhan persyaratan teknis pengajuan.
Pelestarian budaya juga dilakukan melalui berbagai tradisi, seperti ritual Santiago, karnaval budaya, dan Pekakande-kandea. Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur dan mempertahankan nilai-nilai Sara Pataanguna di tengah perkembangan zaman.
Menutup amanatnya, Yusran mengajak masyarakat menjaga kerukunan, merawat fasilitas publik, serta memperkuat semangat gotong royong demi mewujudkan Baubau sebagai kota budaya yang cerdas, sejahtera, dan bermartabat.
Upacara peringatan tersebut dihadiri sejumlah pejabat dan tamu undangan, di antaranya perwakilan Gubernur Sulawesi Tenggara, La Ode Fasikin, S.Pi., M.Si., Bupati Buton Selatan H. Adios, Wakil Bupati Buton Syarifudin Saafa, ST., Wakil Bupati Muna La Ode Asrafil, SH., MH., serta Wakil Bupati Buton Tengah Muh. Adam Basan, S.Sos.
Hadir pula anggota DPR RI Jaelani, Atase Kebudayaan Timor Leste Prof. Dr. Tasrifin Tahara, Kepala BLSDM Komdigi Makassar Drs. Baso Saleh, M.I.Kom., dan Kepala Dinas Kominfo Sulawesi Tenggara Andi Syahrir.
Usai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan ritual adat Pekakande-kandea, yakni tradisi menyuapi anak-anak maelu atau yatim piatu. Tradisi tersebut menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus penegasan bahwa kemajuan Baubau harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan nilai-nilai kemanusiaan. (Sir)


