Kendari, Datasultra.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara menyebut pentingnya sinergitas dalam menjaga inflasi agar terkendali, salah satunya lewat Rapat Koordinasi (Rakor) Pangan bersama pemerintah setempat dan TPID yang baru saja digelar di Aula Wakatobi, Rabu 15 April 2026.
Hal tersebut, menjadi langkah strategis untuk menahan lonjakan harga sekaligus memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Kepala BI Sultra, Edwin Permadi, menegaskan bahwa inflasi dari sektor pangan pada triwulan pertama tergolong tinggi, sehingga diperlukan langkah konkret dan kolaboratif untuk mengatasinya.
“Kalau kita lihat triwulan pertama, inflasi pangan relatif tinggi. Nah, lewat rakor ini kita dorong bagaimana kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan harga yang terjangkau,” ujarnya.
Menurut Edwin, pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan secara parsial. Ada tiga kunci utama yang harus dijalankan secara bersamaan, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, dan sinergi antar pihak.
Dari sisi keterjangkauan harga, berbagai program telah digencarkan Pemerintah Kota Kendari, mulai dari kehadiran kios pangan hingga Gerakan Pangan Murah (GPM).
Bahkan, transaksi kini semakin mudah dengan sistem pembayaran digital seperti QRIS, sehingga masyarakat bisa berbelanja dengan praktis dan tetap sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Gerakan pasar murah ini bahkan sudah digelar lebih dari 150 kali. Ini menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga harga tetap stabil,” jelasnya.
Sementara itu, untuk menjaga ketersediaan pasokan, BI bersama pemerintah daerah terus mendorong peningkatan produksi, termasuk rencana pencetakan sawah baru.
Meski Kendari bukan daerah produsen utama, langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar.
Kabar baiknya, panen padi diperkirakan mulai berlangsung pada awal Mei mendatang. Namun, jika pasokan masih kurang, strategi lain tetap disiapkan, termasuk memperkuat kerja sama antar daerah di Sulawesi Tenggara.
“Wilayah seperti Konawe Selatan, Konawe, dan Kolaka Timur punya potensi besar. Kenapa tidak kita maksimalkan kerja sama? Jangan sampai hasil dari Sultra justru keluar dulu, lalu masuk lagi dengan harga lebih mahal,” tegas Edwin.
Ia juga menekankan pentingnya membangun ekosistem distribusi yang sehat, dengan melibatkan pelaku usaha, distributor, hingga pemerintah kabupaten/kota agar rantai pasok tetap efisien.
Tak kalah penting, peran semua pihak dalam menjaga stabilitas pangan juga menjadi sorotan.
Melalui rakor ini, BI mengajak seluruh elemen mulai dari pelaku usaha, PKK, pemerintah daerah, hingga media untuk bersinergi menyampaikan edukasi kepada masyarakat.
“Kita ingin masyarakat juga berperan, belanja secara bijak, tidak berlebihan. Informasi yang disampaikan juga harus menenangkan, bahwa stok pangan kita cukup,” pungkasnya.
Dengan sinergi yang terus diperkuat, BI Sultra optimistis pengendalian inflasi pangan di Kendari dapat berjalan lebih efektif, sekaligus menjaga daya beli masyarakat tetap stabil. (N1)


