Minggu, April 26, 2026

BERITA TERKINI

POLITIK

Ketika Pikiran Menekan, Proses Menguatkan: Catatan Sunyi Mahasiswa Doktoral

Kendari, Datasultra.com- Sudah cukup lama rasanya saya tidak menuliskan isi hati. Keadaan pikiran dalam beberapa waktu terakhir sepenuhnya terkosentrasi untuk pada rancangan Proposal Disertasi, utamanya harus mengawali dengan ujian Komisi yang biasa juga di kenal dengan Ujian Kelayakan.

Dalam beberapa pekan, saya bahkan sempat merasakan ketegangan di bagian belakang kepala seperti keram yang datang tiba-tiba.

Mungkin tekanan darah meningkat, bukan karena persoalan materi atau kantong kosong, melainkan karena kegelisahan yang lebih dalam, belum ditemukannya bentuk konsep model pengembangan penelitian yang benar-benar terasa tepat dihati dan pikiran saya.

Sebagai mahasiswa Strata Tiga (S3) Ilmu Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Pendidikan di Universitas Halu Oleo Kendari, saya menyadari bahwa proses ini bukanlah hal yang ringan.

Promotor dan Co-Promotor mengingatkan agar saya tidak memikul semuanya sendiri agar berproses dengan tenang dan mengalir.

Namun, kenyataannya, pikiran sering kali enggan diajak tenang, ada ruang kosong yang belum terisi keyakinan, ada keraguan yang masih mengendap, membuat semuanya terasa belum benar-benar “plong”.

Sehari sebelum ujian kelayakan yang sekarang disebut Komisi, pikiran saya masih terus berkelana. Hingga akhirnya, saya memberanikan diri menghubungi salah satu Co-Promotor untuk menyampaikan apa yang saya rasakan.

Tidak berhenti di situ, saya juga meminta pandangan dari seorang kawan yang telah lebih dulu menyandang gelar Doktor dan tidak lama lagi akan menjadi guru besar.

Dari percakapan itu, perlahan muncul titik terang. Ia tidak hanya saja memberi masukan, tetapi juga penguatan meyakinkan bahwa apa yang telah saya rancang sejatinya sudah berada di jalur yang benar.

Malam itu, setelah sekian lama pikiran berkecamuk, saya merasakan lebih ringan. Saya bisa beristirahat dengan pikiran yang lebih rilexs. Keesokan harinya, ujian Komisi rancangan Proposal pun berjalan dengan baik dan lancar.

Sebuah tahap awal telah saya lewati. Promotor dan Co-Promotor menyetujui substansi rancangan yang saya ajukan dan saya diminta untuk melanjutkan ke tahap penulisan proposal secara utuh sebagaimana juknis.

Mungkin benar bahwa dalam pandangan umum, menjadi mahasiswa S3 bukan hanya tentang kemampuan berpikir, tetapi juga tentang ketahanan menghadapi tekanan hingga kadang kepala terasa ikut “berpikir terlalu keras”.

Namun justru di sanalah letak maknanya bahwa setiap lelah, setiap ragu, dan setiap proses yang dijalani, perlahan membentuk keteguhan dalam diri.

Kini saya melangkah lagi dengan keyakinan yang tidak harus sempurna, tetapi cukup untuk terus bergerak sampai nanti sampai pada akhir atau finis perjuangan yang masih sangat panjang dan tentu masih sangat melelahkan.

Dari perjalanan singkat namun penuh makna ini, saya memahami satu hal penting tidak ada proses yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap gagasan membutuhkan ruang dialog, setiap keraguan membutuhkan penguatan.

Tidak ada yang instan dalam perjalanan akademik, terlebih pada tahap ini. Keyakinan pun bukan sesuatu yang mutlak sejak awal, melainkan tumbuh seiring proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh.

Sebagai penegasan, saya memaknai perjalanan ini dengan berpijak pada kerangka berpikir teori manajemen tradisional dan nilai-nilai dalam teori pendidikan yang saya jadikan landasan.

Dalam pandangan klasik, sebagaimana ditegaskan oleh Hery Panyol, keberhasilan suatu proses sangat ditentukan oleh perencanaan yang matang sebagai fondasi dari keseluruhan langkah yang akan ditempuh.

Oleh karena itu, saya meyakini bahwa hasil yang baik selalu berangkat dari perencanaan yang baik
yang di dalamnya terpatri niat yang lurus, disertai semangat dan ketekunan, serta dilandasi doa dan restu.

Pada tahap pelaksanaan, saya berusaha menjalani proses ini dengan penuh kesungguhan menjaga semangat, menguatkan kegigihan, mengelola rasa takut sebagai bagian dari pembelajaran, serta menumbuhkan kerendahan hati untuk terus belajar.

Saya juga berkomitmen untuk menanggalkan gengsi dalam bertanya dan membuka ruang diskusi seluas-luasnya, karena disanalah letak pertumbuhan intelektual yang sesungguhnya. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa hasil tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

Saya menyerahkannya pada hukum sebab-akibat kehidupan sebuah keyakinan tentang karma seraya tetap berharap yang terbaik dapat menyelesaikan proses ini tepat waktu, serta menghadirkan manfaat, setidaknya menjadi kontribusi ilmiah yang melengkapi khazanah pengetahuan yang telah ada.**

Kadek Yogiarta: Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Manajemen Smester Genap

Facebook Comments Box

BERITA POPULER