Rabu, Juni 17, 2026

BERITA TERKINI

POLITIK

OJK Sultra: Gen Z Harus Cerdas Kelola Keuangan, Waspadai Pinjol dan Investasi Bodong

Kendari, Datasultra.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengingatkan generasi muda, khususnya mahasiswa, agar lebih cerdas dalam mengelola keuangan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Hal itu disampaikan Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, saat membuka kegiatan Bulan Inklusi Keuangan dan Edukasi Keuangan yang digelar di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO), Senin 15 Juni 2026.

Dalam sambutannya, Bismi mengajak peserta untuk mengubah pola pikir terkait pengelolaan keuangan.

“Apakah kita bekerja mencari uang atau uang yang bekerja untuk kita? Ini menjadi dasar bagaimana kita harus mengubah mindset agar dapat menciptakan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Menurutnya, kemudahan transaksi digital yang kini dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik juga membawa berbagai risiko, mulai dari investasi bodong, social engineering hingga kejahatan berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti deep fake.

“Karena itu masyarakat harus selalu hati-hati dan waspada terhadap kejahatan digital. Sebab pelaku kejahatan digital sering kali selangkah lebih maju,” katanya.

Bismi menjelaskan, OJK hadir sebagai garda terdepan perlindungan masyarakat berdasarkan Undang-Undang OJK Tahun 2011 dan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

Saat ini, kata dia, OJK fokus pada empat prioritas utama, yakni peningkatan literasi dan inklusi keuangan, pengawasan market produk, perlindungan konsumen, serta pemberantasan aktivitas keuangan ilegal.

Pada kesempatan itu, Bismi juga memaparkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilaksanakan pada Februari lalu di 38 provinsi dengan melibatkan sekitar 75 ribu responden.

“Hasilnya menunjukkan Sulawesi Tenggara berada di atas rata-rata nasional dan menjadi yang tertinggi di wilayah Sulampua. Ini menjadi kebanggaan bagi kami dan seluruh pejuang literasi keuangan,” ungkapnya.

Ia menyoroti kelompok Generasi Z yang saat ini mendominasi sekitar 24,93 persen populasi Indonesia atau sekitar 75 juta jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025.

Menurutnya, mayoritas Gen Z telah memanfaatkan layanan keuangan digital. Namun, terdapat sejumlah persoalan yang perlu menjadi perhatian bersama.

“Sekitar 60 persen Gen Z tercatat pernah menggunakan layanan pinjaman online. Dari jumlah itu, 58 persen menggunakannya untuk kebutuhan gaya hidup dan hiburan, bukan untuk hal produktif,” jelasnya.

Bismi juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang kerap mendorong perilaku konsumtif dan pengambilan keputusan keuangan secara impulsif.

Selain itu, ia membeberkan sejumlah kasus yang pernah menyasar kalangan mahasiswa, mulai dari investasi fiktif di kampus di Bogor pada 2022 yang menjerat ratusan mahasiswa, hingga kasus penyalahgunaan layanan paylater di lingkungan perguruan tinggi.

Di Sulawesi Tenggara sendiri, OJK tengah menangani kasus investasi ilegal yang melibatkan ribuan masyarakat.

“OJK bersama aparat penegak hukum terus melakukan penelusuran dan penyelidikan terhadap transaksi yang terjadi. Kami berharap proses ini dapat segera diselesaikan dan dana masyarakat bisa kembali,” katanya.

Untuk menghindari penipuan keuangan, Bismi mengingatkan masyarakat agar selalu menerapkan prinsip “Legal dan Logis”.

Ia meminta masyarakat memastikan legalitas produk keuangan melalui OJK serta tidak mudah tergiur dengan tawaran keuntungan yang tidak masuk akal.

“Kalau ada tawaran yang terlalu menggiurkan, cek legalitasnya dan pikirkan secara logis. Jangan terburu-buru mengklik tautan atau aplikasi yang dikirim melalui pesan singkat karena berpotensi mencuri data pribadi,” tegasnya.

Bismi juga membagikan tips pengelolaan keuangan melalui formula 50:30:20, yakni 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk tabungan atau investasi, dan 20 persen untuk kebutuhan hiburan atau keinginan pribadi.

Ia berharap mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut dapat menjadi agen literasi keuangan di lingkungan kampus, keluarga maupun masyarakat.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya hadir dalam seminar, tetapi menjadi garda terdepan edukasi dan literasi keuangan di komunitas masing-masing,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Sistem Informasi, dan Hubungan Masyarakat, Prof. Takdir Saili, berharap kegiatan literasi keuangan tidak berhenti pada seremoni pembukaan semata, tetapi dapat terus berlanjut melalui kerja sama berbagai pihak.

“Kami berharap kegiatan ini terus berkelanjutan sehingga literasi keuangan semakin kuat di kalangan mahasiswa dan sivitas akademika Universitas Halu Oleo serta masyarakat Sulawesi Tenggara secara umum,” katanya.

Kegiatan Bulan Inklusi Keuangan dan Edukasi Keuangan tersebut turut dihadiri perwakilan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Bursa Efek Indonesia (IDX), serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Tenggara, di antaranya Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, dan Universitas Halu Oleo (UHO). (N1)

Facebook Comments Box

BERITA POPULER