Kendari, Datasultra.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tenggara terus memperluas jangkauan program literasi dan inklusi keuangan sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan keuangan yang sehat sekaligus memperluas akses terhadap layanan keuangan formal.
Hingga Semester I 2025, OJK Sultra mencatat sebanyak 50.364 orang telah mengikuti kegiatan edukasi keuangan yang dilaksanakan di berbagai daerah. Program tersebut diwujudkan melalui 40 kegiatan edukasi yang telah menjangkau 16 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara dengan tingkat kepuasan peserta mencapai 95 persen.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, mengatakan peningkatan literasi keuangan menjadi salah satu langkah strategis dalam membentuk masyarakat yang mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab.
“Semakin tinggi pemahaman masyarakat mengenai produk dan layanan jasa keuangan, maka semakin besar pula peluang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif,” kata Bismi.
Ia menjelaskan, hasil evaluasi menunjukkan peserta edukasi masih didominasi masyarakat di Kota Kendari. Ke depan, OJK akan memperluas pemerataan kegiatan ke seluruh kabupaten dan kota agar manfaat edukasi dapat dirasakan lebih luas.
Menurutnya, sasaran program juga akan diperkuat dengan menyentuh kelompok-kelompok strategis seperti pelajar, pemuda, petani, nelayan, pelaku UMKM, hingga penyandang disabilitas. Selain kegiatan tatap muka, OJK juga akan memanfaatkan platform digital agar edukasi semakin mudah diakses masyarakat.
Di bidang inklusi keuangan, OJK bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), pemerintah daerah, dan industri jasa keuangan terus menghadirkan berbagai program yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Data OJK menunjukkan lebih dari 473 ribu penerima manfaat telah merasakan dampak program inklusi keuangan di Sulawesi Tenggara. Di antaranya melalui program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) yang telah menjangkau 291.842 pelajar, pembiayaan bagi 6.323 mahasiswa rentan, serta perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi sekitar 1.000 pekerja rentan melalui Program JAMPENA.
Selain itu, OJK juga mendorong penguatan ekosistem keuangan inklusif melalui pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Sorue Jaya, Kabupaten Konawe, serta dukungan pembiayaan sektor kakao di Konawe Selatan. Program tersebut melibatkan kolaborasi pemerintah daerah, perbankan, dan berbagai pemangku kepentingan guna memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Bismi menegaskan, sinergi yang terus dibangun bersama seluruh pihak menjadi kunci untuk memperluas akses keuangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Literasi dan inklusi keuangan harus berjalan beriringan. Masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga memahami cara memanfaatkannya secara tepat untuk meningkatkan kualitas hidup,” ujarnya.
Ia berharap berbagai program yang dijalankan OJK dapat memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya pembangunan Sulawesi Tenggara yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. (N1)

