Jumat, Juni 12, 2026

BERITA TERKINI

POLITIK

Intermediasi Perbankan Tumbuh Positif, OJK Terus Blokir Puluhan Ribu Rekening Judi Online

Jakarta, Datasultra.com– Kinerja intermediasi perbankan di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dengan profil risiko yang tetap terjaga.

Hingga April 2026, penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh sebesar 9,98 persen secara year-on-year (yoy) menjadi Rp8.755 triliun, meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan Maret 2026 yang berada di angka 9,49 persen yoy.

Kepala Departemen Pengawasan dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi, Agus Firmansyah mengungkapkan bahwa berdasarkan jenis penggunaannya, Kredit Investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi.

“Kredit Investasi tumbuh paling tinggi sebesar 19,48 persen, disusul Kredit Konsumsi sebesar 6,13 persen, dan Kredit Modal Kerja yang tumbuh 6,04 persen,” ujar Agus dalam keterangannya, 5 Juni 2026.

Dari kategori debitur, kredit korporasi menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan mencapai 15,51 persen yoy.

Sementara itu, kredit UMKM juga menunjukkan perbaikan kinerja dengan tumbuh positif 0,16 persen yoy, sedikit meningkat dari posisi Maret 2026 yaitu sebesar 0,12 persen yoy. Ditinjau dari kepemilikan, bank BUMN mendominasi pertumbuhan tertinggi sebesar 14,35 persen yoy.

Di tengah pertumbuhan kredit konvensional, produk Beli Sekarang Bayar Nanti atau Buy Now Pay Later (BNPL) yang difasilitasi perbankan juga menunjukkan kinerja yang signifikan.

Meski porsinya terhadap total kredit baru sebesar 0,34 persen, baki debet kredit BNPL melesat hingga 37,29 persen yoy menjadi Rp29,3 triliun per April 2026.

“Pertumbuhan baki debet paylater perbankan ini naik cukup tajam dibandingkan Maret 2026 yang tumbuh 24,20 persen yoy. Jumlah rekening penggunanya pun kini telah mencapai 31,76 juta rekening,” jelas Agus Firmansyah.

Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh sebesar 11,39 persen yoy menjadi Rp10.077 triliun. Secara rinci, komponen giro tumbuh sebesar 16,99 persen yoy, deposito tumbuh 8,65 persen yoy, dan tabungan meningkat sebesar 9,00 persen yoy.

Agus memastikan likuiditas industri perbankan pada April 2026 masih berada dalam kondisi yang sangat memadai. Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 111,13 persen dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 25,39 persen.

Kedua indikator ini bertahan jauh di atas ambang batas ketentuan (threshold ) masing-masing yaitu sebesar 50 persen dan 10 persen.

“Untuk Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada pada level yang aman, yaitu 192,37 persen,” tambahnya.

Kualitas aset perbankan yang dilaporkan terkendali dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,17 persen dan NPL net di posisi 0,84 persen.

Sedangkan rasio Loan at Risk (LaR) mengalami perbaikan menjadi 8,82 persen. Dari sisi profitabilitas, tingkat pengembalian aset ( Return on Asset /ROA) stabil di level 2,46 persen.

Ketahanan modal industri perbankan juga tetap kokoh. Setelah membagi dividen, rasio kecukupan modal ( Capital Adequacy Ratio /CAR) berada di level 23,97 persen. Angka ini diukur menjadi bantalan ( buffer ) mitigasi risiko yang sangat kuat bagi industri keuangan.

Selain memaparkan kinerja keuangan, Agus Firmansyah juga menegaskan komitmen sektor perbankan dalam memberantas aktivitas ilegal, khususnya perjudian daring (judi online) yang berdampak buruk pada perekonomian nasional.

Sebagai langkah konkret, OJK telah mencatat pihak perbankan untuk memperketat pengawasan melalui Enhance Due Diligence (EDD) serta melakukan pemblokiran terhadap sekitar 33.836 rekening yang terindikasi kuat terkait dengan aktivitas judi online. Data ini dikumpulkan dan diselaraskan dari laporan Kementerian Komunikasi dan Digital.

“Kami juga melakukan tindakan perluasan dengan meminta perbankan melakukan penutupan rekening secara menyeluruh yang memiliki kesesuaian Nomor Identitas Kependudukan (NIK) dengan pihak-pihak yang terindikasi terlibat judi online, disertai dengan tindakan EDD lebih lanjut,” tegas Agus. (N1)

Facebook Comments Box

BERITA POPULER