Yogyakarta, Datasultra.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali menggelar Capacity Building (CB) Media 2026. Kegiatan tersebut, diikuti oleh sejumlah jurnalis Sultra serta ketua-ketua organisasi yakni Ketua PWI Sultra, AJI Kendari dan Ketua AMSI Sultra.
Kegiatan yang berlangsung pada 23-26 Agustus 2026 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi jurnalis ekonomi agar mampu menghasilkan data yang akurat, sehingga pers dapat berperan sebagai jembatan informasi, sekaligus memberi kontribusi terhadap kebijakan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Membuka kegiatan, Kepala KPwBI Sultra, Edwin Permadi mengatakan, peran pers sangat penting sebagai jembatan informasi, karena tidak jarang pemberitaan dari media bisa membuka ruang bagi BI Sultra untuk membuat suatu kebijakan bersama pemerintah daerah khususnya dalam kebijakan ekonomi yang tentu saja memberi dampak positif ke masyarakat.
“Jadi jika ada teman-teman pers yang tahu tempat-tempat yang berpotensi di Sultra untuk dikembangkan silahkan informasikan, jika kami bisa bantu, akan kami bantu,” jelasnya.
Dia menambahkan, memang sekarang jaman digitalisasi, dimana pers juga dihadapkan dengan AI, tetapi perlu diingat AI bisa buat berita tetapi AI tak bisa bercerita lebih dalam tentang Sultra.
“Medialah yang bersentuhan dan melihat langsung apa yang ada di lapangan, lebih tahu daerah mana yang bisa dikembangkan dan menginformasikannya ke publik. Bahkan internet pun mendapat info berdasarkan data yang telah diberikan oleh media,” katanya.
Berharap dengan kunjungan teman-teman jurnalis ke tempat-tempat wisata di Jogja dan melalui pemberitaan yang dipublikasikan, bisa dilihat oleh pemerintah daerah maupun pemerintah kabupaten dan kota di Sultra yang selanjutnya dapat diterapkan sebagai pengembangan wisata di daerah masing-masing. Mengingat, potensi di Sultra itu tidak kalah dengan daerah-daerah lain di Indonesia, seperti di Jogja ini.
“Pasalnya jika daerah hanya berharap pada hasil alam seperti pertambangan, itu bisa habis. Sementara wisata tidak akan habis, namun pengelolaanya harus maksimal dan kreatif,” tutur Edwin.
Disisi lain, melihat perkembangan digital saat ini, jurnalis harus menghadapi hadirnya Artificial Intelligence (AI) yang mampu menulis berita dengan mudah kurang dari satu menit dengan hasil yang rapi. Terkait hal itu, BI Sultra menghadirkan Trainer Media Indonesia Institute Digital Marcom Specialist, Reza Awal Kurnia dan Septa Ryan Hidayat.
Dalam paparannya terkait Teori Pengoptimalan AI bagi Jurnalis dan Kode Etik Jurnalis, Reza menyebut, AI itu teknologi yang tetap perlu dilatih, karena jika tidak dilatih AI pun tidak akan bekerja secara optimal.
“AI itu masih banyak kekurangannya, dari sisi kredibilitas dan intuisi di lapangan tidak bisa dilakukan AI, seperti bertemu dengan pimpinan daerah dan memberi tanggapan. Jadi balik lagi dalam menjalankan profesi jurnalis dibutuhkan pengalaman dari rekan-rekan pers,” terang dia.
Hal senada diungkapkan Septa Ryan Hidayat yang mengatakan, AI dapat mengolah informasi dengan cepat, tetapi manusia tetap harus menentukan nilai dan etika yang menjadi dasar penggunaannya.
Septa Ryan Hidayat sendiri memberi Praktek dan Hands on : Practice penggunaan AI untuk pembuatan berita bagi jurnalis. Pada sesi tersebut, ia melatih serta membangun kerjasama para jurnalis dalam memanfaatkan AI dengan baik. Namun dirinya tetap menekankan bahwa manusia tetap pemegang kendali dalam setiap perkembangan digital termasuk penggunaan AI.
Tidak sampai disitu, melalui CB Media 2026, para jurnalis juga diajak berkunjung ke Desa Wisata Pentingsari. Desa yang berlokasi di Dusun Pentingsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta ini menyuguhkan pemandangan yang indah serta kaya akan budaya.
Terletak di Lereng Gunung Merapi, Desa Pentingsari menghadirkan pengalaman wisata berbasis masyarakat yang autentik. Wisatawan diajak menelusuri sungai, mengikuti tradisi desa, dan berinteraksi langsung dengan warga dalam suasana alam yang asri dan menenangkan.
Para jurnalis yang ikut menelusuri keindahan alam Desa Pentingsari berharap masyarakat yang didukung oleh Pemerintah Daerah Sultra juga diharap mampu menghadirkan destinasi yang hampir sama, yakni menghadirkan pengalaman wisata dibarengi dengan penyajian budaya khas Sultra.
Fasilitator-Kolaborator Pemberdayaan Masyarakat Desa Pentingsari, Erwan Widyarto, mengungkapkan, Desa Pentingsari merupakan destinasi wisata yang dikelola masyarakat dan menjadi yang terbaik di Jogja dan Indonesia.
Dia pun menekankan desa wisata bukan taman hiburan, desa wisata yang dijual ialah cerita tentang manusia dan budayanya. Jika menarik garis besar untuk pariwisata ada tiga yang utama yakni budaya, alam dan buatan.
“Desa wisata ini harus kuat di budayanya, alam okelah tetapi jangan kebanyakan buatannya seperti di buat tempat foto dengan bentuk love, tulisan dan seterusnya,” tutur Erwan
Ia menerangkan, sebuah desa wisata itu ialah dibangun setelah menggali potensi wisata yang ada di wilayah itu dan memberi bobot yang mana paling unik dan khas, serta yang mana tidak ada ditempat lain.
“Sehingga ketika pengunjung datang, bisa mendapat pengalaman yang bermakna tidak hanya datang foto lalu selesai,” jelas dia.
Pada kunjungan wisata tersebut, para jurnalis yang mengikuti CB Media 2026 pun tidak hanya merasakan pengalaman baru tetapi juga motivasi dari Pakar Komunikasi dan Motivator Indonesia, Aqua Dwipayana yang menyampaikan media bukan hanya penyampai berita, tetapi mitra strategis dalam membangun kepercayaan publik. (N1)


