Selasa, September 1, 2026

BERITA TERKINI

POLITIK

Ekonomi Sultra Tumbuh 6,19 Persen, Pertanian Mulai Dilirik

Kendari, Datasultra.com – Perekonomian Sulawesi Tenggara (Sultra) tetap menunjukkan performa positif pada triwulan II 2026. Kendati pertumbuhannya sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, laju ekonomi Sultra masih berada jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat ekonomi Sultra pada triwulan II 2026 tumbuh 6,19 persen secara tahunan (yoy). Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2026 yang mencapai 6,23 persen, namun masih lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Gambaran tersebut disampaikan Fungsi Perumusan Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah Provinsi KPwBI Sultra, Ilham Hidayat, dalam kegiatan Capacity Building Media 2026 yang dirangkaikan dengan Bincang Media di salah satu hotel di Yogyakarta, Senin (24/8/2026).

Ilham menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Sultra dari sisi lapangan usaha terutama ditopang oleh industri pengolahan, konstruksi, serta perdagangan besar dan eceran.

“Namun, laju pertumbuhan masih menghadapi tekanan dari sektor pertanian dan pertambangan yang mengalami perlambatan kinerja pada periode tersebut,” tuturnya.

Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Sultra ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), konsumsi pemerintah, ekspor, serta konsumsi rumah tangga.

BI Sultra melihat masih terbuka ruang besar untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah. Salah satunya melalui percepatan sektor pertanian yang tidak hanya mengandalkan produksi bahan mentah, tetapi mulai diarahkan menuju hilirisasi.

Program peremajaan 38 juta bibit kelapa dan kakao yang didorong Kementerian Pertanian menjadi salah satu peluang untuk memperkuat sektor tersebut. Potensi itu semakin besar dengan optimalisasi sekitar 8.200 hektare lahan di Kolaka Utara.

Pengembangan dari sektor hulu hingga hilir dinilai dapat memberikan efek berganda bagi perekonomian. Bukan hanya meningkatkan produktivitas komoditas, tetapi juga membuka lapangan kerja, mendorong aktivitas industri pengolahan, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

“Dengan demikian, pertanian berpeluang tampil sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru Sultra di tengah dominasi sektor berbasis sumber daya alam,” ungkapnya.

Selain pertanian, sektor konstruksi juga menjadi salah satu penopang penting pertumbuhan ekonomi Sultra.

Perkembangan pembangunan kawasan industri nikel di Kolaka menjadi salah satu indikator derasnya aktivitas investasi di daerah. Pembangunan tidak berhenti pada fasilitas pemurnian, tetapi turut mencakup infrastruktur logistik dan berbagai fasilitas penunjang kawasan industri.

Rangkaian pembangunan tersebut menunjukkan adanya arus investasi jangka panjang yang berpotensi memberikan dampak terhadap sektor-sektor ekonomi lainnya.

Ke depan, BI menilai prospek ekonomi Sultra masih cukup terbuka, terutama jika akselerasi pertanian dapat berjalan beriringan dengan ekspansi konstruksi dan pengembangan industri pertambangan.

“Meski demikian, peluang tersebut tetap perlu diimbangi dengan kewaspadaan terhadap sejumlah risiko. Di antaranya penyusutan kuota produksi pertambangan, perubahan regulasi, hingga potensi lonjakan biaya bahan baku yang dapat mempengaruhi kinerja industri,” jelas Ilham.

Dengan pertumbuhan yang masih berada di atas nasional, tantangan Sultra ke depan bukan sekadar mempertahankan angka pertumbuhan, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut semakin beragam, berkelanjutan, dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Hilirisasi pertanian, penguatan industri pengolahan, investasi konstruksi, serta pengelolaan sektor pertambangan secara berkelanjutan menjadi bagian penting dari upaya membangun sumber pertumbuhan baru ekonomi Sultra. (N1)

Facebook Comments Box

BERITA POPULER