Kendari, Datasultra.com- Hari ini, Sabtu, 1 Agustus 2026, bangsa Indonesia kembali dipersatukan dalam Zikir dan Doa Kebangsaan yang dipusatkan di Lapangan Monas, Jakarta, dan diikuti secara serentak di berbagai daerah atas prakarsa Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar menyambut Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 sekaligus memohon keselamatan, persatuan, kedamaian, dan kemajuan bangsa.
Dari Bumi Anoa, Provinsi Sulawesi Tenggara, kegiatan serupa juga diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara di halaman kantor wilayah mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai. Tokoh-tokoh lintas agama akan hadir bersama memanjatkan doa bagi bangsa.
Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa keberagaman agama di Indonesia bukanlah sekat pemisah, melainkan kekuatan yang mempersatukan dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan.
Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di tengah dinamika global, bangsa ini dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi dunia, perkembangan teknologi digital yang memicu disrupsi sosial, maraknya hoaks dan ujaran kebencian di ruang digital, meningkatnya polarisasi masyarakat, ancaman intoleransi, kerusakan lingkungan, hingga bencana alam yang datang silih berganti.
Pada saat yang sama, tantangan moral seperti menurunnya integritas, menguatnya individualisme, dan memudarnya semangat gotong royong juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting.
Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik dan kemajuan teknologi, tetapi juga penguatan karakter, persatuan, serta ketahanan moral bangsa.
Dalam konteks itulah doa memiliki makna yang sangat penting. Zikir dan doa bersama lintas agama bukanlah pelarian dari persoalan, melainkan ikhtiar spiritual untuk memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Esa agar setiap usaha membangun Indonesia memperoleh petunjuk dan keberkahan.
Doa menjadi energi moral yang menumbuhkan optimisme, mempererat persaudaraan, serta mengingatkan bahwa keberhasilan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan manusia, tetapi juga oleh nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.
Tradisi doa bersama sesungguhnya bukan hanya menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Berbagai negara maju juga tetap mempertahankan ruang bagi refleksi spiritual dalam kehidupan kenegaraan. Di Amerika Serikat, National Prayer Breakfast menjadi tradisi yang mempertemukan Presiden, para pemimpin dunia, dan tokoh agama sebagai ruang refleksi moral.
Di Jepang, setiap 15 Agustus diselenggarakan upacara nasional untuk mengenang para korban perang yang diiringi doa demi perdamaian. Sementara di Inggris, berbagai kebaktian nasional digelar pada momentum-momentum kenegaraan sebagai bentuk penghormatan kepada bangsa dan para pahlawan.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak menghilangkan kebutuhan manusia terhadap nilai-nilai spiritual. Sebaliknya, negara-negara maju justru tetap memberikan ruang bagi doa dan refleksi sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.
Dalam khazanah filsafat Barat, Aristoteles mengajarkan bahwa tujuan kehidupan bernegara adalah mewujudkan common good atau kebaikan bersama. Kebajikan lahir ketika setiap warga negara mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
Dalam perspektif ini, Doa Kebangsaan dapat dipahami sebagai salah satu bentuk kebajikan publik karena menghadirkan kesadaran bahwa seluruh anak bangsa memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga persatuan dan kesejahteraan bersama.
Pandangan tersebut diperkuat oleh sosiolog Émile Durkheim yang menjelaskan bahwa ritual bersama memiliki kekuatan membangun solidaritas sosial. Ketika masyarakat berkumpul dalam doa, sesungguhnya mereka sedang memperbarui komitmen moral untuk hidup rukun, saling menghormati, dan menjaga persatuan bangsa.
Dalam perspektif Hindu, semangat mendoakan kesejahteraan seluruh makhluk telah diajarkan sejak zaman Weda.
Sarve Bhavantu Sukhinah, Sarve Santu Nirāmayāḥ, Sarve Bhadrāṇi Paśyantu, Mā Kaścid Duḥkha Bhāg Bhavet.
“Semoga semua makhluk berbahagia. Semoga semua sehat. Semoga semua memperoleh kebaikan. Semoga tidak seorang pun mengalami penderitaan.”
Demikian pula doa universal:
Lokāḥ Samastāḥ Sukhino Bhavantu.
“Semoga seluruh makhluk di semua alam berbahagia.”
Mantra-mantra tersebut mengajarkan bahwa doa tidak hanya diperuntukkan bagi diri sendiri atau kelompok tertentu, tetapi bagi seluruh umat manusia. Nilai ini sejalan dengan ajaran Vasudhaiva Kutumbakam, yang memandang seluruh dunia sebagai satu keluarga besar yang harus hidup dalam kedamaian, saling menghormati, dan saling menguatkan.
Dengan demikian, doa bukan hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga dimensi sosial yang mendorong setiap orang menghadirkan kedamaian dan kebaikan bagi sesama.
Namun demikian, doa bukanlah pengganti kerja keras. Doa adalah penyempurna setiap ikhtiar. Bangsa yang bekerja tanpa nilai spiritual berisiko kehilangan arah moral, sedangkan bangsa yang hanya berdoa tanpa bekerja tidak akan pernah mencapai kemajuan.
Karena itu, doa dan kerja harus berjalan beriringan. Spiritualitas harus melahirkan pengabdian, integritas, tanggung jawab, dan etos kerja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pada akhirnya, berdoa selalu lebih baik daripada tidak berdoa karena doa merupakan bagian dari manifestasi keimanan. Doa membangun optimisme, menumbuhkan harapan, memperkuat persaudaraan, serta mengingatkan bahwa di atas segala ikhtiar manusia terdapat kuasa Tuhan Yang Maha Esa.
Bangsa yang berdoa bukanlah bangsa yang pasif, melainkan bangsa yang mengawali setiap langkah dengan kerendahan hati dan mengakhirinya dengan kerja nyata.
Menyambut Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, marilah kita menjadikan Zikir dan Doa Kebangsaan sebagai gerakan moral sekaligus gerakan spiritual.
Dari Monas hingga Sulawesi Tenggara, dari Sabang sampai Merauke, marilah kita satukan hati, satukan doa, dan satukan langkah untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, makmur, damai, dan sejahtera.
Sebab, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kecerdasan dan kemajuan teknologi, tetapi juga oleh persatuan, karakter, serta doa yang senantiasa mengiringi setiap ikhtiarnya menuju cita-cita nasional.
Penulis: Kadek Yogiarta Pelaksana pada Bimas Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara


