Kendari, Datasultra.Com – Dua mahasiswi Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan menembus lima besar Kompetisi Opini Ilmiah Forum Ekonomi Sultra (Forkestra) 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kedua mahasiswi tersebut adalah Sintia Julistia dan Nur Aisyah, mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Unsultra.
Mereka berhasil masuk lima besar kategori mahasiswa setelah bersaing dengan ratusan karya opini dari peserta lainnya.
“Kami masuk lima besar dari 405 opini yang ada,” kata Sintia.
Dalam kompetisi tersebut, Sintia dan Nur Aisyah mengangkat gagasan berjudul “Beasiswa Gizi Bersyarat: Model Perlindungan Ganda bagi Anak Rentan Putus Sekolah dan Stunting di Sulawesi Tenggara”.
Gagasan itu berangkat dari kepedulian keduanya terhadap persoalan pendidikan dan kesehatan anak di Sultra, khususnya risiko putus sekolah dan stunting yang masih menjadi tantangan pembangunan sumber daya manusia.
Melalui opini ilmiah tersebut, keduanya menawarkan pendekatan terpadu dengan menghubungkan sejumlah program pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Mereka juga merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mengenai persoalan stunting di Kabupaten Buton sebagai salah satu landasan analisis.
Melalui konsep beasiswa gizi bersyarat, keduanya mengusulkan model perlindungan yang tidak hanya mendukung keberlanjutan pendidikan anak dari keluarga rentan, tetapi juga memperhatikan pemenuhan kebutuhan gizi untuk membantu menekan risiko stunting.
Kompetisi yang mengangkat subtema peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan itu membuka pendaftaran serta pengumpulan opini sejak 3 Juni hingga 21 Agustus 2026.
Keberhasilan kedua mahasiswa tersebut tidak terlepas dari pendampingan dosen PGSD Unsultra, Saqjuddin, S.Pd., M.Pd. Ia mengapresiasi capaian mahasiswanya sekaligus menekankan pentingnya pendampingan yang mendorong kemandirian berpikir.
Menurut Saqjuddin, peran dosen bukan sekadar memberikan bantuan ketika mahasiswa menghadapi kesulitan, melainkan membuka ruang diskusi, memberikan masukan, dan membantu mahasiswa mengembangkan gagasannya sendiri.
“Sebagai dosen pembimbing, kami tidak ingin hanya hadir ketika mahasiswa membutuhkan bantuan. Pendampingan kami lebih diarahkan pada bagaimana mahasiswa dapat mengembangkan ide, berdiskusi, mendapatkan masukan, dan belajar mengambil keputusan secara mandiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, mahasiswa perlu diberikan kesempatan untuk menjadi penggerak utama dari gagasan yang mereka kembangkan, sementara dosen berperan memberikan arahan dan penguatan.
Saqjuddin berharap pengalaman mengikuti Forkestra 2026 dapat meningkatkan kreativitas, kepercayaan diri, serta kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
“Harapannya, Forkestra 2026 menjadi pengalaman yang tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga membentuk mahasiswa yang lebih kreatif, percaya diri, kritis, dan mampu menghadirkan gagasan yang relevan serta berdampak bagi masyarakat,” katanya.
Forkestra 2026 mengusung tema “Mewujudkan Ekosistem Ekonomi Sulawesi Tenggara yang Inklusif, Mandiri, dan Berdaya Saing Global”.
Forum tersebut berfokus pada lima subtema, yakni hilirisasi dan ketahanan pangan, konektivitas wilayah, inovasi dan tata kelola, ekonomi inklusif, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kepala Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, mengungkapkan bahwa kompetisi tahun ini mendapat respons positif dari masyarakat. Tercatat sebanyak 964 pendaftar dengan total 405 opini yang masuk.
Jumlah tersebut meningkat 33,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan 304 opini.
“Jumlah opini ini mengalami peningkatan sebesar 33,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan 304 opini,” kata Edwin.
Capaian Sintia dan Nur Aisyah menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya berperan dalam dunia akademik, tetapi juga dapat berkontribusi melalui gagasan inovatif untuk menjawab persoalan pendidikan, kesehatan, dan pembangunan sumber daya manusia di Sulawesi Tenggara. (N1)


